Lao-Lao
Analisa Harian

Agitasi: Senjata Revolusi Sosialis

Sejarah umat manusia adalah sejarah perjuangan antara kelas-kelas yang saling bertentangan. Di setiap zaman selalu terdapat kelompok yang menguasai alat-alat produksi dan kelompok yang hidup dari hasil kerjanya. Dalam masyarakat modern, pertentangan itu muncul dalam bentuk pertentangan antara kelas kapitalis yang menguasai modal dan alat produksi dengan kelas pekerja serta rakyat tertindas yang hidup dari tenaga dan kerjanya.

Kapitalisme sering dipromosikan sebagai sistem yang membawa kemajuan, pembangunan, dan kesejahteraan. Namun di balik kemajuan teknologi dan pertumbuhan ekonomi yang dibanggakan, kapitalisme juga melahirkan kesenjangan sosial yang semakin dalam. Kekayaan terkonsentrasi pada segelintir orang, sementara jutaan manusia harus berjuang setiap hari untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Sistem ini memungkinkan sebagian kecil masyarakat menguasai sumber daya yang sangat besar, sementara mayoritas rakyat hanya menikmati sebagian kecil dari hasil kerja kolektif yang mereka ciptakan.

Dalam kondisi seperti ini, rakyat sering diajarkan untuk melihat kemiskinan sebagai kegagalan individu. Mereka didorong untuk percaya bahwa jika seseorang miskin maka penyebabnya adalah kurang bekerja keras, kurang berpendidikan, atau kurang berusaha. Padahal kemiskinan dalam masyarakat kapitalis bukan semata-mata persoalan individu. Kemiskinan merupakan hasil dari hubungan sosial yang tidak adil, di mana sebagian orang memperoleh keuntungan dari kerja orang lain dan dari penguasaan sumber daya yang seharusnya menjadi milik bersama.

Bagi kaum Marxis, tugas utama gerakan revolusioner bukan hanya mengkritik ketidakadilan yang ada, melainkan juga menjelaskan akar penyebabnya. Di sinilah agitasi memainkan peran yang sangat penting. Agitasi bukan sekadar menyampaikan kemarahan terhadap keadaan yang buruk. Agitasi adalah metode untuk menghubungkan pengalaman sehari-hari rakyat dengan pemahaman yang lebih luas mengenai sistem sosial yang melahirkan penindasan tersebut.

Baca Juga:  Buku Saku: Apa Kabar ULMWP?

Ketika seorang petani kehilangan tanahnya, agitasi menjelaskan bahwa peristiwa itu bukan sekadar persoalan pribadi. Ketika seorang buruh menerima upah yang rendah sementara keuntungan perusahaan terus meningkat, agitasi menjelaskan bahwa hal itu merupakan bagian dari logika kapitalisme. Ketika mahasiswa menghadapi mahalnya biaya pendidikan, ketika masyarakat kesulitan memperoleh layanan kesehatan yang layak, ketika masyarakat adat kehilangan ruang hidupnya akibat ekspansi modal, agitasi membantu rakyat memahami bahwa berbagai persoalan tersebut memiliki akar yang sama dalam struktur ekonomi dan politik yang ada.

Dalam tradisi Bolshevisme sebagaimana dijelaskan oleh Lenin, agitasi harus berangkat dari persoalan konkret yang dirasakan rakyat. Rakyat tidak akan bergerak hanya karena teori-teori yang rumit. Mereka bergerak ketika mampu melihat hubungan antara penderitaan yang mereka alami dengan sistem yang menciptakan penderitaan tersebut. Oleh karena itu, agitasi harus mampu menjelaskan secara sederhana mengapa ketidakadilan terjadi dan mengapa perubahan mendasar diperlukan.

Akan tetapi, agitasi saja tidak cukup. Kesadaran yang lahir melalui agitasi harus berkembang menjadi organisasi. Sejarah menunjukkan bahwa kemarahan yang tidak terorganisir sering kali berakhir sebagai ledakan sesaat yang mudah dipadamkan. Sebaliknya, ketika kesadaran rakyat terhimpun dalam organisasi yang memiliki tujuan, program, dan disiplin perjuangan, maka kesadaran tersebut dapat berubah menjadi kekuatan sosial yang mampu menantang kekuasaan yang ada.

Jalan menuju revolusi sosialis bukanlah jalan yang pendek dan mudah. Revolusi bukanlah peristiwa yang muncul karena keinginan segelintir orang. Revolusi merupakan hasil dari perkembangan kontradiksi dalam masyarakat. Ketika sistem yang ada tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan mayoritas rakyat, ketika kesenjangan sosial semakin tajam, ketika lembaga-lembaga yang ada kehilangan kepercayaan rakyat, maka kondisi bagi perubahan yang lebih mendasar mulai berkembang.

Baca Juga:  Apa Kabar Pendidikan Kabupaten Jayapura di Era Otsus?

Dalam situasi seperti itu, tugas kaum revolusioner adalah mempersiapkan kesadaran politik rakyat. Kesadaran tidak muncul secara otomatis. Ia harus dibangun melalui pendidikan politik yang sabar, diskusi yang mendalam, dan keterlibatan langsung dalam perjuangan sehari-hari rakyat. Setiap konflik sosial, setiap ketidakadilan, setiap bentuk penindasan harus dijelaskan dalam kaitannya dengan struktur masyarakat secara keseluruhan.

Marxisme memandang bahwa negara dalam masyarakat kelas bukanlah lembaga yang netral. Negara lahir dari pembelahan masyarakat ke dalam kelas-kelas yang saling bertentangan dan pada dasarnya berfungsi mempertahankan tatanan sosial yang ada. Oleh sebab itu, perjuangan untuk mengubah masyarakat tidak dapat dibatasi hanya pada pergantian individu dalam jabatan-jabatan politik. Yang diperlukan adalah perubahan hubungan sosial dan ekonomi yang menjadi dasar dari kekuasaan tersebut.

Sosialisme muncul sebagai alternatif terhadap kapitalisme. Sosialisme berangkat dari gagasan bahwa kekayaan yang diciptakan oleh kerja kolektif masyarakat seharusnya digunakan untuk memenuhi kebutuhan bersama, bukan untuk memperkaya segelintir orang. Dalam masyarakat sosialis, alat-alat produksi utama berada di bawah kendali sosial sehingga produksi dapat direncanakan berdasarkan kebutuhan manusia, bukan semata-mata untuk memperoleh keuntungan.

Namun sosialisme tidak dapat diwujudkan hanya melalui deklarasi atau niat baik. Ia membutuhkan keterlibatan aktif massa rakyat dalam perjuangan untuk mengubah masyarakat. Oleh karena itu, pendidikan politik dan pembangunan organisasi menjadi syarat yang tidak dapat dipisahkan dari perjuangan menuju sosialisme.

Pengalaman sejarah menunjukkan bahwa tidak ada kelas penguasa yang secara sukarela menyerahkan kekuasaannya. Setiap kemajuan yang diperoleh rakyat selalu merupakan hasil perjuangan yang panjang. Hak-hak buruh, pendidikan yang lebih luas, layanan publik, dan berbagai pencapaian sosial lainnya lahir dari tekanan gerakan rakyat yang terorganisir. Karena itu perjuangan menuju sosialisme juga menuntut ketekunan, disiplin, dan keyakinan pada kemampuan rakyat untuk mengubah sejarahnya sendiri.

Baca Juga:  Maju, Serang: Begitulah Negara Memandang Orang Papua

Tugas generasi muda, mahasiswa, buruh, petani, masyarakat adat, perempuan, dan seluruh lapisan rakyat tertindas adalah mempersiapkan diri melalui pembelajaran yang serius terhadap sejarah perjuangan kelas, teori revolusioner, dan pengalaman gerakan rakyat di berbagai negara. Kesadaran yang didasarkan pada pemahaman ilmiah mengenai masyarakat akan menjadi fondasi bagi perjuangan yang lebih kuat dan lebih terarah.

Jalan menuju revolusi sosialis bukanlah jalan yang dibangun oleh individu-individu besar semata. Jalan itu dibangun oleh jutaan manusia biasa yang mulai menyadari posisi mereka dalam masyarakat, memahami sumber penindasan yang mereka alami, dan bersatu untuk menciptakan dunia yang berbeda. Revolusi sosialis, dalam pandangan Marxis, bukan sekadar pergantian pemerintahan, melainkan transformasi menyeluruh terhadap hubungan sosial yang selama berabad-abad melahirkan eksploitasi manusia atas manusia.

Karena itu, tugas pertama bukanlah menunggu datangnya revolusi. Tugas pertama adalah membangun kesadaran. Dari kesadaran lahir organisasi. Dari organisasi lahir kekuatan politik. Dari kekuatan politik lahir kemampuan rakyat untuk mengubah masyarakat. Dan dari perubahan masyarakat itulah terbuka kemungkinan menuju suatu tatanan sosial yang bebas dari eksploitasi, penindasan, dan dominasi kelas.

***

Daftar Bacaan

Trotsky, Leon. 1928. Revolusi Permanen. Resist Book: Magelang.

Baca Bolshevisme, Jalan Menuju Revolusi: Lahirnya Marxisme Rusia (Bab I-2) yang ditulis oleh Alan Woods.

Baca Manifesto Partai Komunis (1848) karya Karl Marx dan Frederick Engels.

Konten Terkait

Press Release: Polda Papua Stop Kriminalisasi Ronnie Mambrasar

Redaksi

Lawan Imperialisme Amerika Serikat!

Musell M. Safkaur

24 Tahun AMP, Tugas Mendesak: Propaganda, Persatuan, dan Aksi Terpimpin

Redaksi

Kapolda Segera Perintahkan Kapolres Nabire Proses Hukum Bupati Dogiyai

Redaksi

Palestinianisme, Personalisme, dan Bias Moral Indonesia

Andreas Maurenis Putra

Merintis Jejaring Feminis Pasific

I Ngurah Suryawan

Kirim Tanggapan