Lao-Lao
Editorial

Lawan Imperialisme Amerika Serikat!

Imperialis Amerika Serikat kembali melancarkan serangan di Venezuela pada 3 Januari 2026. Mereka menculik Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan istrinya, Cilia Flores. Motifnya, mereka menuduh Maduro terlibat dalam perdagangan narkoba. Tapi ini adalah tuduhan yang tidak benar. Motif sesungguhnya adalah kekayaan minyak negeri tersebut. Amerika telah menunggu lama untuk akses tersebut, tapi daya Revolusi Bolivarian (1998) tidak dapat ditembus. Sehingga sekarang Amerika bertindak brutal.

Sebelum Maduro, Hugo Chavez lebih dulu mendapat tantangan serupa. Amerika menculiknya pada bulan April tahun 2002, dan selama 47 jam berhasil dibebaskan oleh gerakan massa. Selanjutnya adalah upaya pembunuhan, blockade, dan kombinasi tekanan ekonomi-politik. Namun Hugo Chavez tak tergoyahkan dan melanjutkan nasionalisasi perusahan-perusahan minyak lalu menolak keterlibatan Amerika Serikat. Setelah Chavez wafat tahun 2013, Maduro adalah penerus tongkat tersebut.

Maduro dimusuhi, sama seperti Chavez. Alasannya jelas, Maduro menolak tunduk pada Amerika. Berbagai upaya dilakukan untuk menggulingkan Maduro, termasuk percobaan penculikan pada tahun 2020, tapi ini tidak berhasil. Sebelumnya dilakukan pada tahun 2019 untuk membentuk “Pemerintahan Sementara” yang dipimpin oleh Juan Guadio, antek Amerika Serikat. Tapi sekali lagi, tidak berhasil. Amerika melanjutkan dengan “tekanan-maksimum” dan akhirnya berpuncak pada penculikan yang kita saksikan saat ini.

Bagi mereka yang tidak tahu sejarah, akan mengatakan bahwa “upaya Amerika adalah untuk perdamaian.” Tapi sejarah 70 tahun kekuasaan imperialisme Amerika Serikat menunjukkan bahwa kehadiran Amerika Serikat adalah malapetaka dan selalu dimulai dengan penipuan. Ini tergambar jelas dalam penggulingan Saddam Hussein di Irak tahun 2003. Saat itu, Amerika menuduh Hussein terlibat dalam “terorisme”, tapi tuduhan tersebut tidak benar. Pola yang sama dilakukan terhadap Salvador Allende di Chille tahun 1973, Patrice Lumumba di Congo tahun 1961, Mehdi Ben Barka di Maroko tahun 1965, Thomas Sangkara di Burkina Faso tahun 1987, dan seterusnya.

Amerika menuduh Maduro memimpin Cartel de los Soles (Kartel Matahari). Tapi sebenarnya ini bukan kartel narkoba. Ini adalah istilah sehari-hari yang mulai digunakan oleh jurnalis dan lembaga-lembaga intelektual untuk menyebut tuduhan penyeludupan narkoba oleh militer Venezuela. Tapi ini bahkan dimulai sejak awal 1990an, jauh sebelum Chavez berkuasa. Bahkan, sebagaimana dilaporkan oleh Ben Burgis, “Orang-orang yang menciptakan frasa tersebut bukan untuk menuduh adanya kartel narkoba yang terorganisir secara hierarkis dengan satu pemimpin.” Sehingga jelas, tuduhan Amerika sangat lemah.

Sebuah survei yang dilakukan oleh Economic/YouGov pada Desember 2025 juga menunjukkan bahwa warga negara Amerika Serikat sendiri tidak percaya dengan tuduhan tersebut. Hanya 22% responden yang “mendukung AS untuk menggulingkan Maduro dengan kekuatan senjata.” Sementara di Venezuela, tidak ada satu orang pun (kecuali minoritas oposisi) yang mempercayai hal tersebut. Ini bukan tanpa alasan, karena kepemimpinan Maduro telah memberi manfaat bagi jutaan penduduk Venezuela.

Peter Lacwoski yang mengunjungi Venezuela berkali-kali, melaporkan bahwa mayoritas rakyat Venezuela sudah tahu bahwa kapitalisme adalah sama dengan bencana. Sehingga mereka tidak pernah mentolerir kehadiran imperialis Amerika Serikat. Fakta ini juga yang membuat Venezuela mampu bertahan dari 1998 sampai hari ini, walau Amerika terus menggempur. Target Amerika adalah jelas, minyak. Tetapi apabila minyak dikuasai, maka Venezuela akan miskin. Inilah yang membuat Venezuela tidak mau tunduk pada Amerika Serikat.

Baca Juga:  Perempuan Dalam Lingkaran Militerisme

Rakyat Venezuela sendiri juga sudah punya pengalaman. Sepanjang Abad 20 mereka hidup dalam kemiskinan, padahal minyak mereka dikeruk oleh Amerika Serikat. Inilah yang kemudian menandai pemberontakan pertama di tahun 1989 atau Caracazo. Sementara sebaliknya, setelah Revolusi Bolivarian 1998, ekonomi mereka dipulihkan, martabat mereka dihormati, dan berdaulat. Ini dimulai dari nasionalisasi industri minyak, lalu perbaikan hidup rakyat Venezuela. Apakah ini tidak cukup untuk membuat rakyat Venezuela membela Revolusi? Jelas Amerika tidak mempunyai dukungan apapun dari rakyat Venezuela, tetapi juga rakyat tertindas di seluruh dunia.

Mari kita mengatakan satu hal, bahwa dosa Amerika Serikat, bukan hanya di Venezuela, tapi seluruh dunia telah menunjukkan siapa sesungguhnya Amerika dan apa dampak yang ditimbulkan olehnya setelah menginvasi suatu negara. Ini dapat dilihat, misalnya, setelah Amerika Serikat menggulingkan Jacobo Arbens di Guatemala tahun 1954, atau penggulingan Sukarno di Indonesia tahun 1965. Motifnya jelas, Amerika Serikat berambisi mengembalikan Fruid Company yang mengalirkan pundi-pundi kekayaan bagi mereka. Ini juga seperti Freeport Mc Moran di Papua. Setelah Jacobo Arbens digulingkan, Guetemala direndam dalam lumpur kemiskinan yang parah. Ini pula yang terjadi di Indonesia, dimana 32 tahun kekuasaan Suharto yang terkenal paling korup di dunia dan memiskinkan rakyat Indonesia.

Amerika adalah imperialis baru yang muncul setelah Perang Dunia ke II. Dari puing-puing kemunduran Eropa Barat, Amerika Serikat tampil sebagai kekuatan nomor satu di dunia. Doktrinnya adalah kejayaan Amerika. Tapi yang terjadi adalah kejayaan borjuasi Amerika. Perang dilancarkan di seluruh dunia untuk merampok kekayaan bangsa-bangsa lain, lalu mereka menutupi kejahatan tersebut dengan “perang melawan terorisme, komunisme, dan sekarang narkotika.” Namun yang paling parah adalah, dominasi ini melumpuhkan miliaran manusia di seluruh dunia—yang itu berarti kemanusiaan secara universal.

Apa yang dapat kita harapkan dari Amerika? Tidak ada. Justru cahaya harapan padam. Indonesia sampai hari ini susah bangkit, demikian halnya Irak yang dihancurkan tahun 2003, Libya, dan seterusnya. Amerika berarti imperialis, imperialis berarti monopoli bangsa lain demi kejayaan segelintir borjuasi. Kita tidak dapat berharap rezim semacam itu membawa kesejahteraan. Dan hari ini, itulah yang terjadi di Venezuela. Amerika mengatakan “perang melawan narkoba”, tetapi sesungguhnya perang demi perampokan dan penundukan bangsa lain.

Trump mengatakan bahwa, “Akan mengontrol minyak Venezuela dan transisi kekuasaan sampai rezim yang lebih ramah memimpin”. Kalimat ini secara jelas menunjukkan dua hal, yaitu penguasaan “minyak Venezuela”, dan kedua, penaklukan Revolusi Bolivarian melalui “pemimpin yang ramah”. Ramah maksudnya adalah tunduk setia melayani kepentingan Amerika Serikat seperti misalnya Prabowo Subianto di Indonesia maupun James Marape di Papua Nugini. Kita hanya dapat mengatakan bahwa, lihatlah keadaan Indonesia atau PNG hari ini, dan itulah bukti kesetiaan kepada Amerika Serikat.

Baca Juga:  May Day, Aneksasi, dan Sosialisme di Papua

Sementara sebaliknya, negara-negara merdeka seperti Venezuela ataupun Kuba hari ini terisolasi dan mengalami kesulitan di sana-sini, itu jelas karena blockade Amerika Serikat. Tetapi revolusi disana menghadiahi rakyat mereka dengan kedaulatan penuh, kemandirian ekonomi, dan kemerdekaan sesungguhnya. Sementara Indonesia ataupun PNG, hanya dapat dijelaskan bahwa itulah hasil penghisapan dan penindasan yang dilakukan oleh Amerika Serikat. Sehingga kita tidak dapat mengatakan apapun lagi, selain kembalinya Amerika Serikat berarti perbudakan ekonomi dan politik bagi rakyat Venezuela.

Doktrin Monroe dan Kejahatan Amerika Serikat 

Setelah menculik Maduro, Donald Trump dari Amerika Serikat mengumumkan alasan di balik penculikan tersebut. Katanya dengan sombong, “Rezim Maduro telah menampung musuh asing (maksudnya adalah China) di wilayah kita. Ini adalah pelanggaran berat terhadap prinsip-prinsip pokok kebijakan luar negeri Amerika yang sudah ada sejak lebih dari dua abad lalu. Doktrin Monroe adalah hal penting.”

Tapi ini adalah lagu lama yang diputar kembali. Tahun 1975, Amerika Serikat menuduh Fidel Castro menyimpan senjata rahasia dari Uni Soviet yang mengancam kedaulatan Amerika Serikat. Tapi seluruh dunia tahu bahwa, ini adalah bualan Amerika untuk membenarkan kejahatan mereka di tahun yang sama, yang dikenal sebagai Invasi Teluk Babi untuk menghancurkan Kuba. Hal senada juga dilakukan untuk menguasai Terusan Panama tahun 1989, penggulingan Evo Morales di Bolivia, dan seterusnya. Imperialis Amerika menganggap Benua Amerika sebagai tempat jarahan mereka.

Doktrin Monroe dicetuskan pertama kali pada tahun 1823 oleh presiden ke-5 Amerika Serikat, James Monroe. Doktrin ini mengklaim Benua Amerika sebagai hak mereka. Maksudnya adalah Amerika Serikat yang memegang tampuk kekuasaan atas Benua Amerika. Mereka berhak mengatur semua kekayaan alam, termasuk aktivitas “keamanan” di wilayah kaya sumber daya alam tersebut. Doktrin ini jelas dalam pembunuhan 30.000 ribu rakyat Haiti yang menentang diktator pro Amerika Serikat, Jean Vilbrum Guillamue Sam tahun 1915.

Amerika Serikat saat itu bukanlah kekuatan imperialis terkuat, tapi mereka sedang membangun kekuatannya untuk menaklukkan dunia. Doktrin Monroe adalah “Jepang Cahaya Asia” di Benua Amerika. Mereka berusaha mengkoloni negara-negara Amerika demi menopang superioritas mereka. Inilah yang menandai serangkaian invasi dan pembunuhan atas nama “terorisme, komunisme, dan narkoba” yang dimulai dari Haiti tahun 1915, Nikaragua tahun 1919, Guatemala tahun 1954, Chile tahun 1974, Panama tahun 1989, Brazil tahun 2002, Evo Morales di Bolivia tahun 2019, dan hari ini Maduro di Venezuela.

Apa sesungguhnya yang dapat kita harapkan dari kekuatan bengis semacam ini? Hanya darah dan air mata. Bahkan Amerika Serikat yang terkutuk itu, rela membunuh jutaan manusia demi superioritas mereka. Mereka rela menembak Che Guevara yang dicintai oleh, bukan hanya rakyat Amerika, tapi seluruh dunia. Demikian halnya Thomas Sangkara di Burkina Faso, Patrice Lumumba di Kongo, Dag Hammarskjold di Zambia, dan kudeta-kudeta lain di seluruh dunia. Pendeknya, imperialisme Amerika memulai dan menopang kekuasaan mereka di atas darah dan penipuan. Dan ini dimulai dari Benua Amerika sebelum menyebar ke tempat-tempat lain di seluruh dunia.

Baca Juga:  Politik Empati yang Tersaring Ras dan Identitas di Tanah Papua

Hari ini Amerika Serikat adalah kekuatan imperialis terkuat di dunia. Ia mengontrol hampir separuh bola bumi. Tetapi ini bukan demi kemakmuran bersama, melainkan demi kepentingan sempit segelintir borjuasi mereka. Kepentingan borjuasi adalah uang dan kekayaan, hanya itu! Tetapi demi kepentingan sempit ini, mereka rela membunuh ribuan anak di Gaza, Irak, Vietnam, dan seterusnya. Data menunjukkan bahwa, 1% orang terkaya di Amerika mengontrol hampir separuh kekayaan planet ini. Ini benar karena perusahan-perusahan raksasa seperti Exon, Mobil, dan lain-lain merupakan raksasa minyak yang berpusat di Amerika Serikat.

Daya menunjukan bahwa cadangan minyak di Venezuela mencapai 303 miliar barel. Bahkan, diprediksi mencapai 1 triliun barel yang tersebar di Orinoco, dan lain-lain. Dengan menguasai pasokan ini, akan merubah perimbangan kekuatan minyak dunia sehingga kekuataan Amerika Serikat semakin tidak tertandingi. Inilah alasan mengapa Maduro harus digulingkan dan Amerika Serikat harus menguasai kekayaan tersebut. Sehingga jelas alasan bahwa perang demi pemberantasan “narkoba” adalah omong kosong. Target sesungguhnya adalah minyak untuk menopang superioritas imperialisme AS yang terkutuk dan biadab.

Bagaimana Harusnya Sikap Kita?

Sikap kita harusnya adalah mengutuk imperialisme Amerika Serikat. Mereka bukan wasit dunia, mereka juga tidak mempunyai hak apapun untuk mengatur dan menguasai bangsa lain. Ini bukan hanya termuat dalam resolusi-resolusi Hukum Internasional yang gemar dilanggar oleh Amerika Serikat. Tetapi juga melanggar kedaulatan dan kemerdekaan bangsa lain. Untuk Benua Amerika, Amerika Serikat sama sekali tidak mempunyai hak atasnya. Demikian halnya seluruh planet ini. Nafsu serakah ini harus dilawan, harus dikutuk, dan dienyahkan untuk selama-lamanya!

Lawan Amerika berarti lawan dominasi segelintir orang atas jutaan manusia lain. Lawan Amerika berarti melawan ketidakadilan, kejahatan, genosida, dan pembunuhan manusia dimana-mana demi tujuan sempit, yaitu uang dan kekayaan. Kita sudah punya pengalaman atasnya, dan itu harusnya menjadi penentu sikap kita terhadap Amerika Serikat. Amerika Serikat sama sekali tidak pernah membangun, tujuan mereka adalah penundukan dan penaklukan. Tapi untuk apa semua ini? Hanya fantasi kosong dan keserakahan yang mengancam planet ini ke dalam kehancuran.

Lawan Amerika berarti kita mengambil sikap untuk melawan ketidakadilan. Perang melawan Amerika berarti perang melawan kejahatan dan kesewenang-wenangan. Dan hari ini dunia sedang bangkit mengutuknya. Ini mengalir dari Havana, Stockholm, New York, London, Berlin, dan seterusnya. Elan solidaritas kelas tertindas tengah bergejolak di seluruh dunia. Dan ini juga yang harusnya menjadi sikap kita. Dengan bergabung dalam barisan ini, berarti kita sedang mengambil pilihan untuk menyelamatkan planet ini. Lawan Amerika! Lawan Ketidakadilan! Lawan kesewenang-wenangan!

Hands Of Venezuela!

Solidaritas Buruh dan Rakyat Pekerja Dengan Venezuela, Tolak Intervensi Imperialis!

Ganyang Imperialis Amerika Serikat!

Kelas Buruh dan Rakyat Tertindas Seluruh Dunia Bersatulah!

***

Konten Terkait

Seruan PRP: Tolak Otsus, Lawan Rasisme, dan Bebaskan Victor Yeimo

Redaksi

Aliansi Perempuan Pembebasan Nasional Papua: Kapitalisme Akar Kekerasan Perempuan

Redaksi

Sejarah Memberikan Kesimpulan, Pergerakan yang Merevolusionerkannya

Redaksi

Mengungkap Realitas Material Palu Arit Dibalik Bendera Indonesia

Muhammad Ifan Fadillah

Konflik Agraria Papua Pasca Penerapan DOB Secara Sentralistik

Emanuel Gobay

Kekalahan Kaum Perempuan (3)

Redaksi

Kirim Tanggapan