Per Selasa, 10 Maret 2026, perang antar Iran melawan Amerika-Israel memasuki hari ke-11.
Serangan ini dimulai oleh Amerika-Israel di Taheran, Iran pada 28 Februari 2026. Amerika-Israel menolak negosiasi dengan Iran dan lakukan serangan bom yang mengakibatkan Ayatullah Ali Khamenei, pemimpin tertinggi Iran tewas.
Situasi ini membuat Iran marah dan lancarkan serangan ke Israel, menyerang pangkalan-pangkapan militer Amerika di Qatar, Arab Saudi, hingga hari ini.
Kompas dan Tempo merilis, hingga hari ini 10 Maret 2026 sebanyak 7.943 rumah dan 1.617 properti komersial di Iran rusak akibat serangan AS-Israel. Sementara di pihak Israel sebanyak 13 warga sipil tewas dan 1.923 orang luka-luka. Sedangkan di Amerika sebanyak 7 personil Amerika meninggal.
Dari sejak pertama perang terbuka hingga hari ini, tecatat 1.600 orang tewas dalam perang ini dari berbagai pihak.
Iran juga menutup selat Hormuz yang mengakibatkan 20% minyak dunia berhenti diekspor ke berbagai Negara, termasuk ke Indonesia.
Pada Rabu, 4 Maret 2026, Menteri ESDM, Bahlil mengatakan ditutupnya selat Hormuz oleh Iran mengakibatkan stok cadangan minyak di Indonesia akan habis selama 25 hari terhitung dari 4 Maret.
Setelah kematian Ali Khamenei, Iran telah memilih pemimpin tertingginya yang baru, yaitu Mojtaba Khamenei, anak dari Ali Khamenei.
Dipilihnya Mojtaba Khamenei menjadi pemimpin tertinggi Iran, membuat Donald Trump, Presiden Amerika marah dan memungkinkan perang akan sulit dihentikan.
Tapi apa saja sebenarnya pengaruh dari Iran hentikan ekspor minyak ke Indonesia? Apakah ini adalah krisis dari kapitalisme? Dan yang paling, apa pengaruhnya terhadap Papua?
Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, jangan lupa hadir dalam diskusi Lao-Lao TV dengan topik “Perang Iran Melawan Amerika-Israel, Bagaimana Pengaruhnya Terhadap Papua?”.
Silahkan disimak.
