Marxisme telah lama menjadi ilmu pengetahuan modern yang digunakan untuk menganalisa perkembangan sejarah masyarakat manusia di berbagai belahan bumi yang lain. Sejak dirumuskan pertama kali oleh Marx dan Engles di Abad ke-19, ia bertumbuh dan tahan uji dalam berbagai dinamika perkembangan masyarakat. Sejak saat itu pula ia dicibir, tetapi semakin hari ia semakin jelas, teristimewa di epos imperialisme dunia saat ini.
Di Papua, perkembangan Marxisme boleh dikatakan masih sangat muda. Ia pertama kali masuk tahun 1960an lewat beberapa utusan PKI seperti misalnya Wugaje di wilayah Ayamaru dan beberapa utusan di tempat lain. Namun paska Malapetaka 1965, pergerakan ini juga ikut melayu. Kemudian datang fase 32 tahun Soeharto, disini Marxisme dibenamkan. Semua generasi Papua saat itu hanyut dalam doktrin-doktrin liberal, agamis, dan sebagian lagi adalah tradisional suku-suku Melanesia. Tidak ada ilmu pengetahuan saintifik yang memandu pergerakan sama sekali.
Hanya setelah Soeharto digulingkan tahun 1998, kebuntuan ini mulai dipecahkan. Pertama adalah generasi-generasi Papua yang berada di luar Papua, lalu kemudian secara perlahan dibawa masuk ke Papua. Dewasa ini berbagai macam teori juga masuk ke Papua, tetapi yang paling istemewa adalah Marxisme. Ia mendapat tempat terhormat sebab ia memiliki panduan saintifik yang jelas dan tegas mengenai sebab-musabab penindasan dan menunjukan jalan bagaimana mengakhirinya.
Saya masih ingat beberapa waktu lalu saya berdebat dengan seorang pengikut Ali Syariati, Ando Sabarofek, di Papua. Ia mengatakan bahwa Marxisme tidak relevan di Papua dan hanya cocok di Eropa. Tapi sejak saat itu, bukti-bukti baru semakin memperkuat ketepatan analisa Marxis di Papua. Mulai dari persoalan negara sebagai alat penindas kelas, corak produksi sebagai penentu akhir semua suprastruktur sosial, kelas-kelas dalam masyarakat, dan lain-lain. Terbaru adalah bukti-bukti yang disodorkan oleh Indiana Jośe [1] mengenai struktur masyakat primitif di Korowai, Papua, adalah sama persis seperti yang disodorkan oleh Marxisme 141 tahun yang lalu.
Tahun 1884 Engels menulis sebuah buku yang lengkap mengenai Asal-Usul Keluarga, Kepemilikan Pribadi dan Negara. Buku tersebut menjelaskan secara utuh bagaimana perkembangan masyarakat pertama kali sebelum adanya masyarakat berkelas. Disana disebutkaan bahwa tidak ada negara, kepemilikan pribadi, kelas-kelas sosial, dan semua orang berada dalam posisi yang setara—termasuk kaum perempuan. Organisasi sosial masih sangat rendah, tetapi tidak ada pengekangan sama sekali.
Para pengikut Ali Syariati mengatakan bahwa itu adalah keadaan di Eropa dan bukan sama sekali di Papua. Tapi bukti-bukti baru sebagaimana juga disodorkan oleh Indiana Jośe saat ini mengenai keadaan masyarakat di Suku Korowai membuktikan bahwa analisa Marxis tepat dengan sempurna. Dalam bukti-bukti video dan foto yang bisa Anda akses saat ini, Anda bisa lihat bagaimana masyarakat komunal primitif Korowai menjalankan kehidupan mereka.
Disana tidak ada konsepesi negara bernama Indonesia, tidak ada kepemilikan pribadi (kecuali alat-alat produksi seperti tombak, kapak, alat mancing, dan sebagainya). Tanah dimiliki secara kolektif dimana setiap orang secara bebas mengolah dan berburu disana. Tidak ada konsep bos dan budak, semua orang adalah setara. Pembagian kerja antara perempuan dan laki-laki tidak dipatenkan seperti hari ini—dimana perempuan mengurus keperluan domestik dan laki-laki di luar. Anak-anak diasuh secara kolektif, kesombongan dan persaingan tidak ada, dan semua saling bantu membantu. Tidak ada pekerja seks, tidak ada pencuri, dan tentunya Tuhan bangsa asing tidak dikenal.
Dalam tahapan inilah Marxisme menyebutnya sebagai komunal primitif, dimana masyarakat manusia pertama kali dikembangkan dari dasar yang paling rendah. Ini terjadi di Eropa ratusan ribu tahun yang lalu, juga di wilayah Asiatik seperti di Mesopotania: Irak, Iran, Mesir, dan sebagainya. Perkembangan ini telah berakhir dan organisasi masyarakat yang lebih tinggi yaitu perbudakkan menggantikannya. Setelah itu, barulah feodalisme dan akhirnya kapitalisme saat ini. Namun bagaimna pertukaran zaman ini bisa terjadi? Syarat pokok apa yang menjadi penentu utamanya?
Marxime menyatakan bahwa syarat pokoknya adalah kemajuan dalam tenaga-tenaga produktif yang dengan begitu mengangkat manusia dari satu tahapan ke tahapan yang lain. Pertama manusia menggunakan alat-alat kerja seperti kapak batu, tulang-belulang, lalu kemudian besi. Pertanian dimulai dari berburu dan meramu, lalu holtikultura, sebelum akhirnya agrikultur. Tahapan yang menandai lonjakan pertama kali masyarakat manusia adalah apa yang disebut sebagai Revolusi Neolitikum 12.000 tahun yang lalu kemudian diiringi dengan domestikasi hewan, pemrosesan susu-susu sekunder, pengguanaan wol, dan sebagainya.
Revolusi ini mengangkat manusia dari yang sepenuhnya bergantung ke alam menjadi mengolah, mengendalikan alam untuk memenuhi kebutuhan mereka. Kemajuan tenaga produkitf memungkinkan penciptaan surplus dalam produksi—yang kemudian menciptakan pembelahan masyarakat menjadi kelas-kelas dan berakhir dengan terjungkalnya masyarakat komunal primitif dan di atas puing-puingnya masyarakat perbudakan didirikan.
Tentu saja ini bukan cetak biru seluruh masyarakat. Tetapi apa yang ingin ditunjukkan oleh Marx bahwa pertama adalah komunal primitif lalu setelah terjadi kemajuan dalam tenaga produktif, masyarakat bertransformasi dari tahapan yang paling rendah ke yang lebih tinggi. Di Papua alur sejarah tidak mengikuti tahapan Eropa dalam makna tahap-tahap perkembangannya, tetapi dasar utama yang menjadi pemicu pergeseran bentuk masyarakat adalah sama, yaitu berdasarkan pada kemajuan tenaga produktif.
Mari kita lihat bukti yang diajukan oleh Indiana Jośe, bahwa tahapan Suku Korowai saat ini adalah berdasarkan pada alat-alat kerja mereka. Dimana alat berburu masih sangat sederhana sebagai misal serangga yang digunakan sebagai umpan untuk ikan akan dicelupkan ke dalam air lalu seseorang akan berdiri dengan tombak kayu yang akan dilemparkan ke air apabila seekor ikan mendekati umpan yang dicelupkan. Dalam kasus lain adalah ketika mereka berburu babi hutan, alat yang digunakan adalah tombak kayu kecil yang dimilki oleh masing-masing anggota suku lalu menyerang secara bersama.
Dalam tahapan semacam ini, surplus produksi dalam artian bahan-bahan makanan yang diproduksi dalam waktu sehari adalah terbatas sehingga hanya cukup untuk sehari. Teknik pengawetan yang rendah juga tidak memungkinkan bahan makanan untuk ditimbun. Konsekuensi dari hal ini adalah barang diproduksi untuk hari ini dan dimakan juga untuk hari ini, besok adalah produksi lagi. Tidak ada yang bisa menimbun makanan atau kekayaan, dan konsekuensi dari hal itu dan hal-hal lain seperti kepemilikan kolektif atas tanah, tidak memungkinkan untuk satu orang lebih tinggi dari yang lain.
Konseksuensi logis dari hal ini adalah semua orang berada dalam keadaan setara dan kelas-kelas dalam masyarakat pun tidak ada. Tidak ada kebutuhan alat paksa, yaitu negara untuk mengatur masyarakat, tidak ada polisi, tentara, penjara, dan sebagainya. Juga tidak ada pembagian kerja antara laki-laki dan perempuan, dan semua orang berada dalam keadaan merdeka. Inilah tahapan terendah seluruh masyarakat manusia yang tercermin hari ini di masyarakat Korowai. Demikian pula masyarakat Papua lain untuk waktu 200-400 tahun yang lalu.
Lantas bagaimna masyarakat Korowai akan berkembang ke tahapan yang lain? Tentu saja ia tidak akan mengikuti model Eropa seperti perbudakkan, feodalisme, dan lain sebagainya. Juga tidak akan mengikuti tempat-tempat lain seperti Asia ataupun di Papua seperti di Tabi, Saireri, dan lain sebagainya. Tetapi ia akan langsung melompat ke dalam rengkuhan kapitalisme. Dalam sains, dikenal sebagai hukum perkembangan tak berimbang. Suatu lompatan jauh yang tidak sesuai dengan perkembangan internal, tetapi sebagai sebuah hasil dari hukum perkembangan gabungan dimana hal-hal eksternal dapat menentukan dan mempengaruhinya.
Model produksi lama akan dirasuki oleh model produksi baru, yang pada analisanya yang terakhir akan mendesak hubungan yang lama dan menancapkan model yang baru. Komunal primitif dijungkalkan dan berdiri di atasnya kerajaan kapitalisme. Tidak ada yang kebetulan, namun demikianlah hukum dialektika dimana hal-hal yang berlawanan saling merasuki dan menegasikan model yang lama demi tegaknya model baru. Inilah salah satu hukum Hegelian yang ditangkap oleh Marx dan diletakan pada tempat yang semestinya.
Saya tidak akan membicarakan konsekuensi dari lompatan ini bagi masyarakat Korowai secara detail. Tetapi yang ingin saya tunjukkan adalah, konsekuensi dari pasokan tenaga-tenaga produktif yang dibawa oleh gerakan eksternal (kapitalisme) dalam bentuk internet, handphone, mesin cuci, kompresor, listrik, dan lain sebagainya ke dalam kehidupan masyarakat Korowai—akan menggantikan bubu tradisional, tombak kayu, tungku api, kayu bakar, rumah pohon, dan seterusnya.
Konsekunesi dari perubahan alat-alat produksi adalah pasti berubah pula struktur masyarakat Korowai. Masyarakat egaliter akan digantikan dengan masyarakat persaingan, kesetaraan perempuan dan laki-laki lenyap dan digantikan dengan supremasi laki-laki menurut hukum kapitalisme. Rendah hati akan tergantikan dengan kesombongan, pengahargaan akan diganti dengan permusuhan, persaudaraan sesama anggota suku akan digantikan “kau siapa, saya siapa”, saling membinasakan satu sama lain, supremasi negara semakin ditegakkan, kekuasaan oligarki akan merajalela, dan seterusnya. Pendeknya, selamat jalan dunia komunal primitif dan selamat datang dunia baru, kapitalisme.
Lantas apa yang menjadi kekuataan penggerak utama perubahan ini? Tentunya bukan jin, tentunya bukan kemurahan Tuhan dari Israel karena orang Korowai tidak pernah berdoa kepada Tuhan Israel, tetapi merupakan konsekuensi dasar hukum perkembangan umat manusia yang secara tepat ditunjukkan oleh Marx, yaitu kemajuan-kemajuan tenaga produktif yang kemudian mentransformasi keseluruhan sejarah umat manusia dari satu tahapan ke tahapan yang lain. Inilah yang mengatur keseluruhan sejarah manusia sejak pertama kali berevolusi dari kera 300.000 tahun yang lalu, dan tentunya masyarakat Korowai hari ini.
Marx menulis bahwa, “Sama seperti seorang tidak dapat menilai individu dengan apa yang mereka pikirkan tentang dirinya sendiri, jadi seorang tidak dapat menilai sebuah periode transformasi semacam itu dengan kesadarannya, tetapi bertentangan dengan itu, kesadaran ini harus dijelaskan dari kontradiksi kehidupan material, dari konflik yang ada antara tenaga produktif sosial dan hubungan produksi.” [2]
Perkembangan tenaga produktif dan dengan begitu hubungan-hubungan produksi adalah dasar dari semua suprastruktur sosial yang ada. Filsafat, agama, moral, hukum, dan sebagainya—berdiri di atasnya. Perubahan dalam moda produksi, berarti berubah pula semua bangunan di atasnya. Dalam hal ini kita tidak melupakan hubungan dialektisnya, tetapi hanya dalam analisanya yang terakhir, ia adalah faktor yang menentukan. Sehingga untuk menerangkan semua hubungan sosial dalam masyarakat, tidak bisa tidak, harus dicari dalam kontradiksi kehidupan material, yaitu moda produksi yang mengaturnya.
Marx menulis, bukan kesadaran umat manusia yang menentukan eksistensi mereka, tetapi eksistensi sosial mereka yang menentukan kesadaran mereka. Kemudian Marx melanjutkan:
“Perubahan dalam pondasi ekonomi cepat atau lamban menuju pada transformasi keseluruhan suprastruktur yang besar sekali. Dalam mempelajari transformasi semacam itu selalu penting untuk membedakan antara transformasi material dari kondisi ekonomi proses produksi, yang dapat ditentukan dengan ketelitian ilmu pengetahuan alam dan transformasi yang legal, politik, religius, artistik atau filosofi—secara singkat, bentuk-bentuk ideologi dimana rakyat menjadi sadar akan konflik tersebut dan berjuang habis-habisan.” [3]
Ini dapat dijelaskan bahwa, kriteria perkembagan manusia dapat dilihat terutama dari perubahan organ-organ sosialnya—perkakas kerja—yang perkembangannya tak terbatas. Dalam proses kerjanya, tak seperti binatang, manusia secara aktif mempengaruhi lingkungan sekitarnya, merubahnya dan menyesuaikannya pada kebutuhan mereka.
Perkembangan masyarakat Korowai hari ini adalah tidak mungkin lebih tinggi dari kemajuan tenaga produktifnya. Perkakas kerja seperti tombak kayu, bubu, tenun tangan tradsional, tidak mungkin menghasilkan daging babi yang berlimpah ruah atau gedung pencakar langit yang lengkap dengan AC, TV, makanan cepat saji, dan sebagainya—yang diproduksi oleh perkakas kerja modern. Sehingga struktur sosial masyarakat Korowai adalah sama persis seperti kemajuan alat-alat produksi dan tenaga produktif mereka. Syarat untuk meningkatkan keberadaan mereka, tidak bisa tidak harus dimulai dari peningkatan alat-alat kerja dan tenaga produktif mereka.
Inilah dasar dari kemajuan sosial suatu masyarakat, yaitu harus dimulai dari kemajuan tenaga produktifnya. Kebenaran ini begitu jelas bagi kita, sehingga bahkan seorang tak terpelajar pun bisa memahaminya. Marx meletakan ini ratusan tahun yang lalu, tetapi relevansi bahkan masih segar hingga hari ini. Dalam konteks Papua, saya menilai, hanya Marxisme yang mampu menerangi semuanya. Ilmu pengetahuan lain adalah reduksionis, oleh sebab itu, tidak layak untuk dipakai di Papua. Generasi muda Papua harus mempelajari Marxisme, dimulai dari hari ini juga.
***
Referensi
[1] Indiana Jośe adalah seorang konten-kreator asal Eropa yang pergi dan hidup selama beberapa minggu di suku Korowai, Papua selama beberapa minggu. Ia merekam bermacam-macam aktivitas Suku Korowai yang masih sangat primitif dan hidup dalam keadaan serba alami. Dalam analisa sejarah, ini adalah bentuk dimana pertama kali semua masyarakat manusia bertransformasi dari dunia binatang sebelum akhirnya mencapai tahapan modern hari ini.
[2] Marx, Karl. 1859. A Contribution on the Critique of Political Economy. Progress Publishers, Moscow.
[3] Ibd
