Sambutan Ilmiah Kepada Masyarakat Internasional: Mari Lindungi Paru-Paru Bumi dan Hentikan Ekosida di Tanah Papua!
Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia, 5 Juni 2026
Oleh Menase Tabuni, Presiden United Liberation Movement for West Papua (ULMWP)
Selamat pagi, salam kompak bagi kita semua, dan salam perjuangan bagi para penjaga bumi di seluruh dunia.
Hari ini, 5 Juni 2026, kita berkumpul bukan untuk merayakan sebuah pesta, melainkan untuk menghadiri sebuah masa berkabung sekaligus konsolidasi akbar.
Bumi kita sedang demam tinggi, napasnya tersengal-sengal, dan benteng-benteng pertahanan alam kita sedang digempur oleh keserakahan yang sistemik.
Melalui mimbar publik internasional ini, mari kita kesampingkan retorika manis dan mari melihat data, serta fakta yang sejujurnya tentang kondisi planet kita, dengan menyoroti tiga paru-paru terbesar dunia, sejarah pergerakannya, serta krisis akut yang hari ini terjadi di jantung Pasifik, yaitu Tanah Air Papua.
Kekayaan Tiga Hutan Tropis Terbesar Dunia dan Pasokan Oksigen Bumi
Bumi kita bergantung pada tiga benteng hijau utama yang menjaga pasokan udara dan menstabilkan iklim. Jika ketiganya runtuh, runtuh pula peradaban manusia. Tiga benteng besar yaitu:
- Hutan Amazon (Amerika Selatan)
Amazon adalah rumah bagi jutaan spesies. Hutan ini memiliki keanekaragaman hayati nomor satu di dunia, menyimpan lebih dari 40.000 spesies tumbuhan, 3.000 jenis ikan, dan miliaran pepohonan kuno.
Berdasarkan data dari Amazon Conservation, ekosistem ini menampung sekitar 10% dari seluruh keanekaragaman hayati dunia yang diketahui. Secara ilmiah, Amazon memproduksi sekitar 6% hingga 9% dari total oksigen yang dihasilkan oleh tumbuhan di darat.
Jauh lebih penting dari itu, Amazon bertindak sebagai “penyerap karbon” raksasa yang menahan miliaran ton racun karbon agar tidak lepas ke atmosfer.
- Hutan Cekungan Kongo (Afrika Tengah)
Hutan terbesar kedua di dunia ini terkenal sebagai hutan dengan kemampuan menyerap karbon paling efisien per hektarnya, bahkan mengalahkan Amazon.
Hutan Kongo kaya akan kayu bernilai tinggi, tanaman obat, serta menjadi rumah bagi spesies langka yang terancam punah seperti gorila gunung dan gajah hutan.
Kongo menyumbang sekitar 3% sampai 4% pasokan oksigen darat dunia. Menurut data Greenpeace, rawa gambut di Cekungan Kongo menyimpan sekitar 30 miliar ton karbon, jumlah yang setara dengan emisi global dari seluruh dunia selama tiga tahun.
- Hutan New Guinea/West Papua di Pasifik
Inilah pulau hutan tropis utuh terbesar yang tersisa di kawasan Asia-Pasifik, yang meliputi wilayah Papua Nugini dan West Papua (Papua Barat). Hutan Papua adalah keajaiban dunia. Dengan luas wilayah yang hanya mencakup sebagian kecil dari daratan bumi, Papua menyimpan hampir 10% dari seluruh spesies flora dan fauna di planet ini, di mana sebagian besarnya bersifat endemik. Artinya, mereka tidak ada di tempat lain di dunia.
Papua kaya akan burung cenderawasih, kasuari, kangguru pohon, serta ribuan jenis anggrek dan kayu besi (merbau). Hutan Papua Nugini bersama West Papua menyumbang sekitar 2% hingga 3% pasokan oksigen darat global.
Yang paling krusial, tanah Papua memiliki lapisan lahan gambut yang sangat dalam. Menurut data para ilmuwan, lingkungan, hutan dan gambut Papua mengunci miliaran ton karbon dioksida. Jika hutan ini dihancurkan, maka “bom karbon” akan meledak ke atmosfer dan mempercepat kiamat iklim global.
Alur Sejarah Gerakan Lingkungan dan Anatomi Kerusakan Ekologi Global
Bagaimana kita bisa sampai pada titik kritis di tahun 2026 ini?
Tema internasional (global) resmi yang ditetapkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melalui United Nations Environment Programme (UNEP) untuk Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 adalah: Inspired by Nature. For Climate. For Our Future (Terinspirasi oleh Alam. Untuk Iklim. Untuk Masa Depan Kita).
Di samping tema utama tersebut, PBB mengamplifikasi gerakan tahun ini lewat slogan kampanye publik adalah For Climate. For Our Future dengan tagar resminya adalah Now For Climate (Sekarang untuk Iklim).
Fokus utama dari tema internasional tahun ini adalah mendesak aksi iklim atau climate action global dengan memanfaatkan Nature-based Solutions (NbS) atau solusi berbasis alam—seperti menjaga kelestarian hutan, lahan basah, dan lautan—untuk menahan laju pemanasan global demi masa depan generasi mendatang.
Tuan rumah utama (global host) yang memimpin perayaan dan kampanye internasional tahun ini adalah kota Baku, negara Azerbaijan.
Mari kita lihat sejarah perjuangan Ekosida.
- Era 1970-an hingga 1990-an (fase kesadaran awal)
Gerakan lingkungan modern lahir dari kekhawatiran atas polusi industri dan kebocoran kimia. PBB menyelenggarakan Konferensi Stockholm tahun 1972 yang melahirkan Hari Lingkungan Hidup. Pada tahun 1992, KTT Bumi di Rio melahirkan kesadaran bahwa pembangunan tidak boleh menghancurkan masa depan atau sustainable development.
- Era 2000-an hingga 2015 (fase target di atas kertas).
Protokol Kyoto dan Perjanjian Paris 2015 menetapkan target ambisius untuk menahan kenaikan suhu bumi di bawah 1,5^\circ C. Namun, komitmen ini sering kali menjadi komoditas politik tanpa aksi nyata yang mengikat.
- Era 2016 hingga 2026 (fase tuntutan radikal dan gugatan hukum)
Dalam beberapa tahun terakhir hingga tahun 2026 ini, masyarakat internasional dipimpin oleh gerakan pemuda dan masyarakat adat tidak lagi meminta, melainkan menuntut.
Sorotan utama tahun ini adalah krisis kepunahan massal spesies dan polusi mikroplastik yang meracuni rantai makanan dari laut hingga ke plasenta manusia, serta kegagalan transisi energi yang masih ketergantungan pada batu bara dan minyak bumi.
- Faktor dan Bentuk Kerusakan Ekologi Global
Kerusakan lingkungan disebabkan oleh kerakusan manusia atau keserakahan ekonomi kapitalistik yang menganggap alam sebagai komoditas tanpa batas. Bentuk perusakannya nyata: hutan digunduli (deforestasi); gunung-gunung dikeruk hingga berlubang; sungai dan laut diracuni limbah dan plastik; serta udara dipenuhi gas rumah kaca.
Akibatnya adalah anomali cuaca ekstrem, gelombang panas mematikan yang melanda berbagai belahan dunia, mencairnya es kutub, dan ancaman kelaparan massal akibat gagal panen global.
Krisis Lingkungan dan Ekosida di Tanah Papua
Kini, mari kita arahkan pandangan mata internasional ke West Papua. Di bawah hukum internasional dan sorotan NGO lingkungan nasional seperti Auriga Nusantara, WALHI, serta organisasi internasional, apa yang terjadi di Papua hari ini bukan sekadar kerusakan lingkungan biasa, melainkan telah memenuhi syarat sebagai Ekosida. Penghancuran ekosistem secara sengaja, terstruktur, sistematis, masif, dan berkepanjangan.
- Eksploitasi Tambang Raksasa dan Penebangan Hutan Jutaan Hektar
Selama puluhan tahun, gunung-gunung suci masyarakat adat Papua dikeruk oleh korporasi tambang mineral raksasa skala global. Jutaan ton limbah batuan beracun (tailing) dibuang langsung ke aliran sungai, mengendap hingga ke muara, merusak ekosistem hutan rawa, dan membunuh biota laut di pesisir selatan Papua.
Di sisi lain, hutan tropis Papua ditebang habis-habisan. Data terbaru dari NGO Auriga Nusantara menunjukkan lonjakan deforestasi yang mengerikan di Indonesia, di mana pulau Papua menjadi target utamanya. Ratusan ribu hingga jutaan hektar hutan alam dibabat untuk diubah menjadi perkebunan kelapa sawit skala industri besar dan proyek pertanian masif.
- Konstruksi Hukum Oligarki Kapitalisme Atas Nama Pembangunan
Kerusakan ini tidak terjadi di ruang hampa. Ini adalah hasil kerja kelompok oligarki dan kapitalisme yang berkolaborasi dengan kebijakan luar dan dalam negeri. Dengan menggunakan jaminan hukum dan undang-undang khusus—seperti regulasi investasi cepat dan kebijakan berlabel Proyek Strategis Nasional (PSN)—pemerintah kolonial Indonesia membuka karpet merah bagi para investor.
Hutan adat dirampas atas nama PSN, program hilirisasi industri mineral, hingga rencana pembangunan proyek antariksa dan satelit. Atas nama “kesejahteraan rakyat” dan “pembangunan nasional”, hak-hak masyarakat adat Papua dirampok dan didepak. Suara masyarakat adat yang hidup selaras dengan alam dibungkam oleh moncong senjata dan kekuatan uang dan modal.
- Dampak Demografis, Limbah Industri, dan Sampah Plastik
Arus perpindahan penduduk secara ilegal dan masif dari luar Papua ke pusat-pusat industri baru di Papua memicu ledakan populasi perkotaan. Kota-kota di Papua yang tidak siap dengan sistem pengelolaan lingkungan, kini dikepung oleh krisis baru. Penumpukan sampah plastik yang tidak terurai, pencemaran air bawah tanah oleh limbah domestik, serta polusi udara dari aktivitas pembangkit listrik industri berbahan bakar batu bara.
- Angka Kerusakan Hutan Papua dan Prediksi Dampak Iklim Dunia
Berdasarkan analisis para ahli lingkungan, kerusakan hutan Papua membawa ancaman sistemik bagi iklim dunia, yaitu:
Jangka Pendek: kehilangan keanekaragaman hayati secara instan; spesies endemik punah sebelum sempat diidentifikasi; masyarakat adat Papua kehilangan ruang hidup (livelihood) dan kelaparan karena sagu serta buruan mereka hilang; banjir bandang dan tanah longsor yang sebelumnya tidak pernah terjadi di Papua, kini menjadi pemandangan rutin.
Jangka Menengah: terlepasnya cadangan karbon raksasa dari lahan gambut Papua yang rusak. Ini akan menggagalkan target global dalam menurunkan emisi karbon, menyebabkan suhu bumi semakin panas, dan memicu cuaca ekstrem yang lebih parah di kawasan Asia-Pasifik.
Jangka Panjang: hutan Papua akan melewati tipping point (titik tiada kembali). Papua tidak lagi menjadi penyumbang oksigen dan penyerap karbon, melainkan berubah menjadi dataran kering yang melepaskan panas. Ini adalah kontribusi fatal bagi kenaikan permukaan air laut global yang akan menenggelamkan pulau-pulau kecil di Pasifik dan kota-kota pesisir di dunia.
Solusi Permanen: Penyelamatan Bumi dan Kedaulatan West Papua
Para pejuang Lingkungan Hidup yang kami kasihi …
Kita tidak bisa menyelesaikan masalah lingkungan dengan metode yang sama—dengan pihak yang merusaknya. Solusi kosmetik seperti kampanye menanam seribu pohon atau program daur ulang plastik tidak akan pernah cukup selama sistem yang menjajah alam dan manusianya tetap berdiri kokoh.
Solusi permanen untuk menyelamatkan masa depan generasi anak cucu kita dari kehancuran bumi adalah dengan ‘menghentikan segala bentuk kejahatan lingkungan hidup secara radikal dan total’.
Kita harus mencabut kuasa korporasi kapitalis dari wilayah-wilayah adat. Secara khusus, mari kita melihat kebenaran yang mendasar bagi masa depan hutan tropis di tanah West Papua harus dikembalikan kepada pemilik sahnya—masyarakat adat Papua—melalui pengakuan kemerdekaan dan kedaulatan penuh.
Fakta sosiologis dan ekologis membuktikan bahwa selama aktivitas eksploitasi tanpa batas dan praktik kolonialisme ekonomi masih bercokol di atas tanah West Papua, maka alam, gunung, sungai, udara dan hutan tropis Papua akan terus dikuras dan dihancurkan.
Kapitalisme, kolonialisme dan imperialisme atas tanah dan manusia selalu berjalan beriringan dengan penjajahan atas alam semesta. Ketika alam Papua dihancurkan demi keuntungan segelintir elite oligarki, dampaknya tidak mengenal batas negara. Krisis iklim akibat rusaknya hutan Papua akan merugikan seluruh umat manusia di planet bumi ini.
Alam dan manusia Papua adalah ciptaan Tuhan yang kudus, yang diciptakan sesuai dengan gambar dan rupa Allah. Merusak alam Papua berarti merusak ciptaan-Nya dan mengancam hak hidup generasi manusia masa depan di seluruh dunia.
Maka, menyelamatkan hutan Papua bukan lagi sekadar isu lokal atau urusan domestik satu negara. Ini adalah kewajiban moral internasional.
Kami sangat menghormati dan memberi penghargaan terbesar kepada kawan-kawan Penjaga Bumi; serta Pejuang Lingkungan Hidup dan Kemanusiaan di Indonesia, Pasifik dan di seluruh dunia.
Mari kira berkomitmen, rapatkan barisan, dan bersatu untuk memberikan hak berdaulat penuh bagi West Papua—mengelola tanah, air, udara dan segala sumber daya alamnya sendiri adalah kekuatan utama untuk mengunci karbon dunia, menjaga pasokan oksigen bumi dan memastikan bumi ini tetap layak dihuni bagi anak cucu kita di masa depan.
Mari kita bertindak hari ini sebelum terlambat, serta sebelum pohon terakhir di tebang, dan sebelum napas bumi benar-benar berhenti.
Demikian Sambutan Ilmiah ini. Atas perhatian, pertimbangan, dan kerja samanya, diaturkan terima kasih yang sebesar-besarnya.
Allah Leluhur Banga Papua menyertai dan melindungi
Waa Waa Waaa …
Tanah Air West Papua, 5 Juni 2026
***
