Lao-Lao
Teori

Materialisme Historis: Partai Revolusioner untuk Tumbangkan Kapitalisme

Dunia jelas merupakan suatu sistem tunggal, yaitu suatu keseluruhan koheren yang tidak dapat dipisahkan satu sama lainnya atau tidak berceceran, acak-acakan, dan terputus satu dengan yang lainnya. Semua saling terhubung atau bertalian satu sama lain. Perubahan dalam satu bentuk, sudah pasti mempengaruhi dan menentukan bentuk yang lain. Ini terjadi di alam raya secara keseluruhan, termasuk secara spesifik dalam kehidupan masyarakat-manusia. Dan terkait hubungan antara manusia dan benda (alam raya) adalah hubungan yang kompleks dan saling bekerja secara mutual dan aktif. Benda (alam/kondisi sosial) mengkondisikan manusia dan hubungan-hubungannya, sementara sebaliknya, manusia juga dapat mempengaruhi alam ataupun kondisi-kondisi sosial tertentu. Pendeknya, di antara dua hal tersebut, terdapat suatu hubungan yang saling kena-mengena satu dengan lainnya.

Lalu apa yang menjadi kekuatan pokok dalam keseluruhan syarat-syarat kehidupan materil masyarakat-manusia? Atau dengan kata lain, apakah yang menjadi basis yang menentukan hubungan satu manusia dengan manusia lainnya: karakter sistem sosial, moral, intelektual, dan perkembangan masyarakat dari satu tahapan ke tahapan lainnya?

Inilah peran materialisme historis untuk mengungkap fakta tersebut. Fredrich Engels mendefiniskan materialisme historis sebagai suatu cara pandang alur sejarah yang berusaha mencari penyebab akhir dan kekuatan penggerak semua peristiwa bersejarah yang penting dalam kehidupan masyarakat-manusia. Konsepsi utama materialisme atas sejarah dimulai dari seperti yang ditulis Engels dalam Anti Duhring (1877):

“Produksi sarana-sarana pendukung kehidupan manusia dan, setelah produksi, adalah landasan bagi semua struktur sosial; bahwa di setiap masyarakat yang telah muncul dalam sejarah, cara bagaimana kekayaan didistribusikan dan bagaimana masyarakat terpecah-pecah menjadi kelas-kelas atau kelompok-kelompok sosial tergantung pada apa yang diproduksi, dan bagaimana produk-produk itu dipertukarkan.”

Untuk hidup, pertama-tama manusia harus punya tempat berlindung, makanan, dan pakaian. Dan untuk mempunyai semua itu, manusia harus memproduksinya. Tetapi untuk dapat berproduksi, dibutuhkan alat-alat kerja yang suka tidak suka harus diproduksi oleh manusia itu sendiri dan dapat menggunakannya.

Adalah jelas bahwa ketika nenek moyang kita bertransformasi dari kera menjadi manusia dan alat-alat yang digunakan untuk bertahan hidup masih sangat sederhana. Pertama-tama dimulai dari pengumpulan biji-bijian secara liar, namun oleh karena kondisi alam yang ganas, kondisi biologis manusia, serta ada kebutuhan untuk melindungi diri dari ancaman eksternal, maka, mau tidak mau, manusia harus hidup secara bergerombol. Ini terjadi sekitar tiga ratus ribu tahun yang lalu (Josh Holroyd dan Laurie O’Conel, 2022).

Pada perkembangan selanjutnya bahasa bersama dikembangkan, dan bersama dengan itu pula alat-alat produksi dikembangkan. Data-data antropolog menunjukkan bahwa manusia pertama menggunakan batu lalu kemudian besi. Dan sesuai karakter keprimitifannya, alat-alat ini dipunyai oleh masing-masing anggota (kecuali tanah), berproduksi secara bersama dan hasil digunakan secara bersama. Sebagai wujud dari hal ini adalah semua orang berada dalam posisi setara atau tidak ada kelas-kelas. Engels menguraikan struktur sosial dari masyarakat-masyarakat tanpa kelas ini dalam bukunya Asal-Usul Keluarga, Kepemilikan Pribadi, dan Negara bahwa:

“Tidak ada tentara, tidak ada polisi, tidak ada bangsawan, raja, bupati, pejabat atau hakim, tidak ada penjara, tidak ada tuntutan hukum—dan semuanya berjalan dengan tertib … rumah tangga dikelola oleh sejumlah keluarga yang setara, dan bersifat komunistis, tanah adalah milik suku, hanya kebun-kebun kecil yang dialokasikan untuk sementara kepada rumah tangga, namun tidak dibutuhkan sama sekali apparatus administrasi yang kompleks dengan segala konsekuensinya. … Tidak ada fakir miskin—rumah tangga komunal dan gens (keluarga marga) memahami tanggung jawab mereka terhadap yang tua, yang sakit, dan cacat dalam perang. Semua setara dan bebas, termasuk perempuan. Tidak ada budak atau penundukkan terhadap suku-suku lain” (Engels, 1884).

Hanya setelah mata bajak ditemukan, holtikultura digantikan oleh agrikultur, dometikasi hewan dan pengembalaan, pemrosesan susu-susu sekunder, pengunaan wol, dan lain sebagainya—berhasil melepaskan manusia secara bertahap dari ketergantungan terhadap alam. Engels selanjutnya menjelaskan bahwa di tahapan inilah surplus produksi tercipta dan menandai awal mula pembagian masyarakat ke dalam kelas-kelas.

Namun begitu, tahapan ini juga menandai perampokkan dan sumber daya alam menjadi sesuatu yang diperebutkan untuk pertama kalinya. Kelompok-kelompok masyarakat yang entah karena kekeringan atau kalah perang, terpaksa menjadi tawanan dan pekerja paksa bagi kelompok lainnya. Ini adalah awal mula perbudakkan dimulai.

Masyarakat terfragmentasi menjadi kelas-kelas, sebagian mengorganisir diri menjadi kelas berkuasa, mengorganisir tentara, dan merumuskan aturan-aturan baru (embrio negara) untuk menjaga privilege mereka. Kerja produksi tidak lagi hanya merupakan kerja kebutuhan (necessary labour), tetapi juga kerja surplus. Kerja yang pertama adalah untuk memenuhi kebutuhan hidup produsen (budak), sementara yang kedua untuk keuntungan kelas berkuasa (tuan budak). Ernest Mandel memberi contoh bahwa ini dapat dilihat pada periode Kekaisaran Romawi, atau di Barat India serta Afrika Portugis Abad ke-16 yang mana para budak bekerja satu hari untuk memenuhi kebutuhan mereka, sementara 6 harinya untuk keuntungan tuan budak (Mandel, 1967).

Di daerah lain seperti Asia (Asiatik), para pendeta dan tukang sihir (dokter) makin memperkuat ikatan mereka, mengangkat diri menjadi kelas militer dan bangsawan yang mengeksploitasi. Ini pertama terjadi di daerah Mesopotania (Irak, Iran, dan Mesir) lalu menyebar ke sebagian wilayah Asia, dan lainnya.

Baca Juga:  Apabila Prabowo jadi Presiden

Namun lambat laun, dengan perbaikan lebih lanjut dalam melebur dan mengolah besi; meluasnya bajak besi dan pertenunan; perkembangan lebih lanjut dari pertanian, perkebunan, dan peternakan; serta kemajuan di bidang kerajinan tangan, mendorong kontradiksi-kontradiksi pokok dalam sistem perbudakan. Kerja paksa sudah tidak cocok lagi dengan kemajuan tenaga produktif yang baru—yang menuntut inisiatif dan minat untuk bekerja. Disinilah kemajuan tenaga produktif mendesak hubungan produksi lama yang sudah tidak sesuai lagi. Suka tidak suka, perbudakkan harus dirobohkan dan digantikan dengan hubungan produksi yang lebih sesuai, yaitu feodalisme.

Di dalam feodalisme, kelas yang saling bertentangan adalah raja dan petani hamba. Walau petani hamba memperoleh sedikit kebebasan, yaitu tidak diperjual-belikan dan dibunuh seperti budak, namun kerja yang dilakukan masih tetap merupakan kerja ganda, yaitu kerja kebutuhan dan kerja surplus. Seperti yang ditunjukkan oleh Engels dalam buku Anti Duhring (1877) bahwa keluarga petani memproduksi hampir semua yang mereka butuhkan, begitupun halnya para pengrajin di kota. Dan hanya ketika mereka mulai memproduksi lebih daripada kebutuhan mereka sendiri, surplus ini kemudian sebagian diambil oleh raja secara gratis, dan sebagian dilempar ke dalam pertukaran yang disosialisasikan dan ditawarkan untuk dijual, menjadilah komoditas.

Pasar semakin diperluas, produksi komoditi semakin intensif, batas-batas lama ditembus, dan teristimewa dengan ditemukannya mesin uap menjadikan kaum produser semakin independen dan berdiri sendiri-sendiri. Di samping gilde-gilde, bengkel-bengkel individual, berdiri pula pabrik-pabrik manufaktur menggunakan tenaga mesin yang dikerjakan oleh banyak orang; barang-barang diproduksi dalam jumlah banyak dalam waktu singkat dan murah, serta kelas borjuasi mulai terbentuk. Namun perkembangan pesat ini terbentur dengan sistem feodal yang memperhambat pertumbuhan pasar nasional dan pertumbuhan kelas borjuasi. Awalnya kontradiksi ini mengambil bentuk lokal, tetapi lambat laun mengambil bentuk nasional dan pecahlah pemberontakan-pemberontakan besar di Abad ke-17 dan 18 di Eropa Barat (Perancis, Inggris, Jerman, dan sebagainya).

Demikianlah akhir dari feodalisme, dan di atas puing-puingnya tatanan yang lebih sesuai, yaitu kapitalisme didirikan. Tetapi tepat seperti dua sistem sebelumnya, kapitalisme juga tidak menghapuskan pertentangan kelas. Ia hanya merubah bentuk hubungan penindasan dan lebih disederhanakan lagi. Dalam buku Anti Duhring (1877) Engels menguraikan bahwa perkembangan mesin-mesin uap terpaksa mentransformasi manufaktur yang lebih tua menjadi industri modern, tenaga-tenaga produktif berkembang dengan panduan borjuasi dalam suatu kecepatan dan dalam suatu derajat yang tiada bandingnya dalam sejarah.

Untuk lebih produktif, untuk lebih perkasa dan sesuai produksi masa kini, maka alat-alat produksi yang terpencar-pencar harus dikonsentrasikan ke dalam suatu produksi yang hanya dapat dikerjakan oleh suatu kolektifitas orang-orang banyak. Yang itu berarti, secara bersama, produksi itu sendiri berubah dari yang dulunya tindakan individual menjadi tindakan sosial, dan produk-produk dari individual menjadi produk-produk sosial. Inilah watak utama produksi kapitalisme. Tetapi seperti yang dijelaskan lebih lanjut oleh Engels, bahwa bentuk produksi yang telah tersosialisasikan ini berkontradiksi dengan hubungan kepemilikan pribadi yang masih dipertahankan oleh borjuasi. Produksi sudah sosial, tetapi kepemilikan masih individu: kontradiksi ini mengandung benih dari seluruh antagonisme kelas hari ini.

Selanjutnya, pengkonsentrasian alat-alat produksi ke tangan segelintir individu melalui pembubaran sistem feodalisme; penghancuran produksi-produksi individu; di satu sisi merubah jutaan kelas pekerja menjadi kaum tak bermilik atau pekerja upahan (buruh), sementara di lain sisi penumpukan alat-alat produksi dan kekayaan hanya di tangan segelintir kelas borjuasi. Sistem kapitalisme menempatkan kelas buruh sebagai produsen, tetapi di saat yang bersamaan memisahkan hasil yang diproduksi dari mereka. Sementara kelas borjuis, kelas yang tidak bekerja, dari singgasana yang jauh menghak-milik apa yang diproduksi oleh buruh. Kontradiksi antara produksi yang disosialisasikan dan penghakmilikan kapitalistik; memanifestasikan diri sebagai antagonisme antara proletariat dan borjuasi.

Lebih lanjut, persaingan antara kelas borjuis terus mendorong penyempurnaan mesin-mesin produksi. Akan tetapi, semakin sempurna mesin dan semakin tajam persaingan antara borjuasi, maka produksi semakin tidak terencana (anarkis) dan menyebabkan krisis-krisis periodik tak terkendalikan—yang melempar jutaan orang dalam ketiadaan lapangan pekerjaan dan kemiskinan yang mengerikan. Adalah fakta bahwa alih-alih kemajuan mesin-mesin memperpendek waktu kerja dan mendorong kesejahteraan bersama, justru sebaliknya menghancurkan jutaan umat manusia dan meredam mereka dalam lumpur penderitaan yang tiada bandingnya. Inilah kapitalisme: semakin ia berkembang, semakin tajam kontradiksi-kontrakdiksi inheren—yang pada analisanya yang terakhir menjadi palu penghancur dirinya sendiri.

Dalam Kontribusi untuk Kritik Ekonomi Politik (1859) Marx menulis bahwa, “Dalam sejarah tidak pernah ada susunan ekonomi yang lenyap sebelum semua tenaga produktif yang mempunyai tempat di dalamnya telah berkembang dan hubungan produksi baru yang lebih tinggi tidak pernah lahir sebelum syarat-syarat materil dari pada hidupnya telah masak di dalam rahim yang lama itu sendiri”.

Kapitalisme telah mensosialisasikan produksi, mendorong (bukan berarti menciptakan lapangan pekerjaan) miliaran orang untuk bekerja (produktif), dan di atasnya alat-alat berteknologi tinggi yang menciptakan keberlimpahan sudah tersedia. Tetapi kemajuan ini terbentur oleh hubungan penghakmilikan pribadi, sehingga suka tidak suka, hubungan ini akan terdesak atau didesak keluar dan hubungan yang baru, yang lebih sesuai, yaitu sosialisme akan menggantikannya.

Baca Juga:  GMKI Kota Sorong dan "Omong Kosong" PSN untuk Kesejahteraan

Sosialisme mendasarkan diri di atas basis produksi yang terencana melalui dewan-dewan buruh dan rakyat pekerja yang partisipatif dan demokratis. Hak milik pribadi dihapuskan dan digantikan dengan kontrol kolektif rakyat pekerja. Tidak ada bos, tidak ada pekerja, semua orang adalah setara, termasuk kaum perempuan. Pemisahan kerja mental dan fisik dihapuskan, termasuk juga perbedaan desa dan kota. Semua orang memiliki akses yang sama terhadap roti, pendidikan, seni, bangunan mewah, dan sebagainya—yang diakses secara gratis dan senantiasa dalam keadaan berlimpah. Hanya di atas kondisi semacam ini, kelas-kelas dalam masyarakat akan menguap bersama hantu kemelaratan dan sejarah perkembangan umat manusia dalam hal formasi sosial telah mencapai limitnya, yaitu komunisme.

Inilah keseluruhan sejarah umat manusia sejak kemuculannya pertama kali dan perkembangannya di masa depan. Satu hal umum, kesesuaian atau persamaan yang dapat ditarik adalah perubahan-perubahan sosial dapat terjadi hanya ketika ada kemajuan dalam corak produksi manusia dan dengan begitu telah mempersiapkan syarat-syarat materil bagi berdirinya masyarakat yang baru. Tetapi, adalah konyol untuk mengatakan bahwa revolusi akan terjadi begitu saja ketika kondisi objektifnya telah matang tanpa bantuan manusia sebagai penggerak. Marx secara jelas mengatakan bahwa manusia dikondisikan oleh keberadaan sosialnya, tetapi manusia juga adalah pencipta sejarahnya sendiri.

Revolusi bukan buah apel yang ketika matang jatuh sendiri. Tetapi ia adalah hasil usaha-usaha massa rakyat yang mengabdikan diri dalam perlawanan tanpa henti untuk mendobrak status quo yang sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan tenaga produktif dan dengan begitu hubungan-hubungannya, dan mendirikan hubungan produksi dan suprastruktur yang lebih sesuai. Kondisi objektif tanpa bantuan faktor subjektif (massa rakyat yang terorgansir untuk melawan) adalah mustahil membicarakan suatu perubahan dalam masyarakat.

Kecuali komune primitif yang secara alami memasuki masa perbudakkan; seluruh masyakarat berkelas lainnya memasuki perubahan yang satu dengan lainnya hanya oleh karena perjuangan massa rakyat yang mendasarkan dirinya di atas basis-basis material yang mengkondisikan keberadaannya. Adalah mustahil ada feodalisme tanpa pemberontakkan massa budak, demikian halnya kapitalisme tanpa pemberontakan kaum tani dan borjuasi kecil perkotaan yang berpuncak pada Revolusi Prancis 1789.

Hari ini, para pembenci Marxisme mencibir kaum Marxis bahwa mereka gagal karena mengatakan: kapitalisme tak terelakan akan tergantikan oleh sosialisme. Ini menunjukkan bahwa mereka sama sekali tidak memahami Marx secara penuh, atau jika memahami, karena kepentingan kelasnya, mereka terpaksa mengutip Marx secara sepotong-potong untuk menipu kaum buruh dan rakyat pekerja bahwa kapitalisme adalah tahapan tertinggi sejarah perkembangan umat manusia, dan oleh karena itu, sosialisme hanyalah bualan Marx yang tidak benar.

Tahun 1864, Marx segera bergabung dalam Asosiai Pekerja Internasional yang didirikan di London dan memainkan peran penting di dalamnya. Namun oleh karena gagalnya berbagai revolusi-revolusi saat itu, termasuk dihancurkannya Komune Paris (1871), mendorong Marx untuk terus menulis mengenai syarat-syarat revolusi. Salah satu poin pentingnya adalah pembangunan Partai Revolusioner. Tanggal 23 November 1871 Marx menulis kepada F Botle (1978) bahwa:

“Gerakan politik kelas pekerja tentu saja mempunyai tujuan akhirnya, yaitu penaklukan kekuasaan politik bagi kelas ini, dan ini tentu saja memerlukan organisasi kelas pekerja sebelumnya yang dikembangkan hingga titik tertentu dan muncul dari perjuangan ekonominya.”

Kemudian tahun 1886, setelah menganalisis gerakan kelas pekerja di Inggris dan Amerika, Engels menulis dengan nada tegas bahwa, “Tetapi apapun yang dapat menunda atau mencegah konsolidasi nasional partai pekerja—tidak peduli apapaun platformnya—akan saya anggap sebagai kesalahan besar.”

Tesis utama Marxisme adalah bahwa kelas buruh mempunyai tugas historis (terkondisikan) untuk menghancurkan kapitalisme dan merupakan kelas yang paling revolusioner. Tetapi untuk dapat melaksanakan tugas tersebut, dibutuhkan sebuah perubahan dari “kelas dalam dirinya sendiri” menjadi “kelas untuk dirinya sendiri.” Disini poin utama adalah peningkatan level kesadaran buruh dan rakyat pekerja dari sekedar ekonomisme menjadi kesadaran politik. Tetapi, bagaimana tugas ini bisa dilakukan? Melalui organisasi apa tugas ini bisa diwujudkan?

Inilah tak tergantikannya partai revolusioner sebagai syarat subjektif dalam sebuah revolusi. Marx dan Engles menulis secara umum semasa hidup mereka, tetapi kemudian di tangan Lenin (1870-1924) persoalan ini mendapat pengejawantahan dan tempat yang paling sempurna. Lenin mengembangkan Kepeloporan Revolusioner bahwa: lapisan paling maju dan sadar kelas dari proletariat harus mengorganisir diri membentuk organisasi politik (partai revolusioner) demi menarik lapisan lebih luas dari kelas buruh serta memenangkannya ke politik revolusioner sekaligus menjadi perwujudan angkatan politik proletar melawan musuh-musuh kelasnya.

Tesis ini berangkat dari fakta bahwa kesadaran buruh dan rakyat pekerja adalah bervariatif. Bahkan dalam tingkatan yang paling luas dan massal kesadaran mereka adalah kesadaran ekonomisme, yaitu tuntutan yang paling dekat dengan keseharian mereka. Sementara tuntutan yang paling tinggi, yaitu penuntasan tugas historis mereka: penggulingan kapitalisme dan perebutan kekuasaan ke tangan mereka (sosialisme), hanya bisa diwujudkan dalam suatu tingkat kesadaran, pemahaman, dan komitmen yang paling tinggi. Dan inilah tugas partai untuk mewujudkannya (Lenin, 1902).

Baca Juga:  Agitasi dan Propaganda

Melalui kerja teori dan praktek yang sabar, membutuhkan waktu lama dan melelahkan, partai pertama-tama harus mengumpulkan elemen-elemen terbaik dari massa buruh dan rakyat pekerja lalu kemudian menarik lapisan lebih luas lagi untuk membentuk angkatan politik proletar yang siap melawan musuh-musuh kelasnya. Tanpa ini, energi massa akan terbuang percuma atau hanya akan mencapai tahap pemberontakan. Untuk bisa mencapai kemenangan yang dibutuhkan, yaitu penumbangan kapitalisme dan pendirian sosialisme, hanya bisa terjadi apabila dipandu oleh partai revolusioner yang memiliki kejelasan teori dan kebulatan tekad untuk melawan.

Trotsky menulis pada tahun 1932 bahwa bila saja tidak ada partai bertipe Bolshevik pada tahun 1917, maka mustahil ada revolusi sosialis saat itu. Tidak peduli betapa pun telah masaknya kenyataan-kenyataan objektif dalam rahim kapitalisme, tetapi apabila tanpa bantuan partai revolusioner, maka semua akan lenyap berlalu dan kapitalisme kembali pada porosnya. Tetapi hanya oleh karena bantuan kaum Bolshevik, yaitu kaum buruh dan rakyat pekerja yang terogansir sebagai perwujudan angkatan politik proletar yang didukung oleh massa tani—yang tampil memimpin jalanya revolusi, kemenangan itu bisa diraih pada bulan Oktober.

Inilah pelajaran utama yang dikembangkan oleh Marx, Engels, dan Lenin. Bahwa biar pun kapitalisme telah memasuki epos pembusukkan, tetapi tanpa partai revolusioner, yaitu bidan yang berfungsi untuk mensesar kelahiran bayi sosialisme yang telah dikandung dalam rahim kapitalisme, maka selama itu pula anak bernama sosialisme tidak akan lahir ke muka bumi. Sehingga jelas bahwa cibiran para pembenci Marxisme, bahwa sosialisme telah gagal adalah omong kosong yang ditebar kepada kita semua.

Hari ini, di tengah zaman akhir kapitalisme, yaitu imperialisme, kita tengah melihat kemajuan-kemajuan luar biasa dalam teknologi dan sains. Tetapi di saat yang bersamaan kita juga menyaksikan penderitaan-penderitaan dan kerusakan-kerusakan yang tiada bandingnya. Pengangguran-pengangguran juga meningkat setiap tahun. Bahkan di tahun ini, lebih dari 2,7 juta orang menganggur di Amerika Serikat. Sementara di dunia ketiga, jutaan orang meluncur secara bebas ke dalam gelombang PHK massal. Di Indonesia, lebih dari 100.000 orang kehilangan pekerjaan tahun ini.

Adalah fakta bahwa kita telah mempunyai kemajuan-kemajuan dalam energi baru terbarukan, tetapi di saat yang bersamaan produksi bahan bakar fosil juga meningkat setiap tahun dan menyebabkan krisis iklim paling parah yang belum dikenal pada masa sebelumnya. Bahkan negara-negara kepulauan di Pasifik seperti Kiribati diprediksi akan tenggelam pada tahun 2080. Sementara itu, perang terus berlanjut di Palestina, Ukraina, blokade terhadap Kuba, Venezula, Iran masih terus berlangsung hingga hari ini. Ada terlalu banyak energi yang dibuang untuk perang, alih-alih membangun kemanusiaan yang adil dan beradap.

Juga ada jutaan anak kelaparan di Afrika dan Timur Tengah. 80% anak tidak minum susu setiap pagi. Tetapi di saat yang bersamaan Amerika membuang jutaan liter susu ke laut. Kita tahu dengan pasti bahwa ketergantungan terhadap alam telah hampir ditaklukan separuhnya. Telur yang dulunya menunggu beberapa bulan, hari ini diproduksi dalam jumlah miliaran setiap hari di seluruh dunia. Demikian halnya daging ayam, sapi, sayuran, gandum, beras, dan lain sebagainya. Disini jelas bahwa kemajuan tenaga produktif telah menciptakan syarat-syarat materil bagi terciptanya masyarakat tanpa kelas, yaitu masyarakat yang diorganisir di atas basis keberlimpahan. Tetapi hubungan produksi kapitalistik telah menghambat kemajuan tersebut.

Sehingga jelas, suka tidak suka, hubungan produksi ini harus angkat kaki karena sudah tidak sesuai lagi dengan kemajuan tenaga produktif saat ini. Namun begitu, sebagaimana sudah kita ulas, bahwa kapitalisme tidak bisa roboh dengan sendirinya. Ia membutuhkan tenaga pendorongnya. Dan inilah tugas mendesak kita saat ini, yaitu mengorganisir diri ke dalam partai revolusioner proletaritat untuk menyelesaikan tugas historis kita saat ini demi pembangunan masyarakat yang lebih adil, makmur, sejahtera dan bebas dari penindasan yang selama ini merantai kita semua.

***

Referensi

Engels, Friedrich. 1877. Anti Duhring. Diterbitkan dalam bahasa Indonesia oleh Hasta Mitra dan Ultimus Bandung, 2005.

Lenin. 1902. Apa Yang Harus Dikerjakan? Diakses dari situs marxis.org terjemahan Ted Sprague, 2014. Baca: https://www.marxists.org/indonesia/archive/lenin/1902/ApaYang/index.htm

Engels, Friedrich. 1884. Asal-Usul Keluarga, Kepemilikan Pribadi, dan Negara. Diterbitkan dalam bahasa Indonesia oleh Kalyanamitra, 2004.

Josh Holroyd dan Laurie O’Conel. 2023. Asal Mula Masyarakat Kelas. Diakses dari situs revolusioner.org Perhimpunan Sosialis Revolusioner. Baca: https://revolusioner.org/asal-mula-masyarakat-kelas/

Mandel, Ernet Mandel. 2013. Pengantar Teori Ekonomi Politik. Diterbitkan dalam bahasa Indonesia oleh Bintang Nusantara, Yogyakarta.

Marx, Karl. 1859. Kontribusi untuk Kritik Ekonomi Politik. Diakses dari situs marxis.org terjemahan Anonim. Baca: https://www.marxists.org/archive/marx/works/1859/critique-pol-economy/preface.htm

Molyneux, Jhon. 1978. Marxisme dan Partai. Diakses dari situs marxis.org dalam bahasa asli. Baca: https://www.marxists.org/history/etol/writers/molyneux/1978/party/index.htm

Trotsky, Leon. 2023. Membela Revolusi Oktober. Diakses dari situs marxis.org terjemahan Ted Sprague. Baca: https://www.marxists.org/indonesia/archive/trotsky/19321127-trotsky-membelaoktober.html

Lorimer, Doug. 2013. Pokok-Pokok Materialisme Historis. Diterbitkan dalam bahasa Indonesia oleh Bintang Nusantara, Yogyakarta.

Alan Woods dan Ted Grant. 2018. Nalar Yang Memberontak; Filsafat Marxis dan Sains Modern. Diterbitkan dalam bahasa Indonesia oleh Resist Book, Yogyakarta.

Konten Terkait

Federasi vs Kesatuan: dari Amerika Hingga Otonomi Khusus Papua

Yokbeth Felle

Mama Yosepha dan Relevansi Ekofeminisme di Papua

Ana Siep

Dampak Buruk Kehadiran Pabrik Semen Maruni di Manokwari

Kelly Dowansiba

Praktek Penindasan Dalam Liberalisme Sistem Pendidikan

Elias Hindom

Para Saksi Ungkap Permasalahan Perusahaan Perkebunan Kelapa Sawit Di Kabupaten Sorong

Redaksi

KKP Itu Tirani Baru Atas Luka Lama Papua

Arendt Ananta

Kirim Tanggapan