Ditulis oleh Rinto Kogoya
Mengapa pertanyaan “untuk siapa kita bekerja” menjadi sangat mendasar dan menentukan bagi seorang pejuang?
Sebagai seorang pejuang harus dapat menjawab pertanyaan tersebut dengan tepat agar dia dapat terus ambil bagian dalam gerakan perjuangan sejati rakyat Papua hingga menang. Untuk siapa dia menderita dan membajakan dirinya menghadapi godaan borjuasi? Siapa yang memerintah dia bekerja?
Seorang pejuang hanya bekerja untuk kebebasan rakyat Papua, karena itulah syarat bagi kebebasan dirinya sendiri. Tanpa membebaskan rakyat Papua dari sistem penindasan dan penghisapan, maka tidak ada kebebasan bagi dirinya sendiri. Seluruh motif gerakan perjuangan yang kita lancarkan adalah ilmiah. Keadaan masyarakat dan jalan keluar yang harus kita tempuh juga ilmiah. Karena itu, kita bekerja untuk kebebasan bangsa dan rakyat Papua juga sepenuhnya ilmiah, bukan karena dorongan perasaan atau karena dorongan emosional semata.
Seorang pejuang selalu bekerja bagi rakyat Papua dan perjuangan di bawah pimpinan organisasi yang tepat. Organisasi menjaga dia agar tetap memiliki dasar pengabdian yang ilmiah dan objektif untuk terus menghilangkan perbedaan kepentingannya dengan massa rakyat Papua. Bila tidak, maka dia tidak akan menjadi pejuang dalam pengertian yang sesungguhnya dan pengabdiannya pada rakyat Papua pun hanya bersifat sementara, penuh siksaan, dan seluruh tugas-tugas perjuangan yang diemban dianggapnya sebagai keinginan semata dan penuh formalitas.
Setiap waktu, setiap saat, seorang perjuangan harus selalu mengoreksi dasar-dasar pengabdiannya pada rakyat Papua dan menjawab pertanyaan “untuk siapa dia mengabdi?” karena hanya dengan begitu dia bisa berjuang dengan senang hati, tulus, dan terus mengoptimalkan setiap pekerjaan yang diemban tanpa memikirkan dia akan dikenang, dikenal, atau dihargai atau tidak.
Apa pengertian dari pengabdian total dan menyeluruh bagi rakyat Papua?
Pengabdian sepenuhnya bagi rakyat Papua adalah kesanggupan kita menempatkan kepentingan individu di bawah kepentingan massa rakyat Papua, perjuangan sejati rakyat Papua, dan organisasi. Pengabdian penuh pada rakyat Papua ditujukan bagi perjuangan untuk mencapai pembebasan nasional secara demokratis dan pembebasan penindasan dan penghisapan imperialisme dan koloniaisme.
Seorang yang mengabdi pada rakyat Papua adalah seorang yang memahami kedudukan masalah lainnya, termasuk masalah pribadi, serta penyelesaiannya dalam hubungannya dengan kontradiksi pokok rakyat Papua saat ini. Pejuang selalu mengabdi pada penyelesaian kontradiksi pokok, karena menyadari bahwa tanpa memecahkan kontradiksi pokok rakyat Papua, masalahnya tidak akan pernah tuntas secara menyeluruh. Apapun yang dia kerjakan dari waktu ke waktu adalah menyelesaiakan masalah-masalah dalam kaitannya dengan menuntaskan kontradiksi pokok tersebut.
Karena itu, seorang pejuang harus senantiasa berjuang untuk menjadi seorang pejuang profesional yang seluruh tenaga, pikiran, waktu, harta bahkan jiwanya hanya untuk massa rakyat Papua, perjuangan pembebasan nasional, dan organisasi.
Mao Zedong dalamTentang Pemerintahan Koalisi mengatakan:
Titik tolak kita adalah mengabdi kepada rakyat dengan sepenuh hati, tak sejenak pun memisahkan diri kita dari massa, dalam semua hal berbuat dari segi kepentingan rakyat, tidak dari kepentingan diri sendiri atau kepentingan grup kecil, dan mengerti tanggungjawab kita terhadap rakyat dan anggung jawab kita kepada badan-badan pimpinan partai.
Kita tidak mengabaikan kepentingan individu selama memiliki hubungan dengan kepentingan dan tujuan-tujuan perjuangan. Kita tidak bisa menempatkan kepentingan individu di luar tujuan-tujuan perjuangan karena sebuah kepentingan individu tidak pernah tercapai, baik selama kita berada dalam sistem penghisapan dan penindasan yang telah merampas hak-hak individu rakyat Papua—ekonomi, politik, dan kebudayaan.
Apa yang dimaksud dengan setiap pekerjaan bernilai?
Tidak ada pekerjaan perjuangan yang tidak berharga. Dalam melakukan pekerjaan perjuangan, kita tidak dapat memilah pekerjaan teknis dan non-teknis; pekerja teori dan praktek; atau yang lain secara mekanis. Tetapi kita harus sanggup memadukannya, karena hal-hal tersebut memiliki nilai kuantitas dan kualitasnya sendiri.
Kita sering menganggap pekerjaan kita tidak berharga karena pekerjaan itu kecil, dan ada juga yang menganggap pekerjaan itu terlalu berbahaya. Seorang perjuangan harus rela melakukan pekerjaan apa pun tanpa melihat besar kecil atau tinggi rendahnya pekerjaan tersebut.
Dalam pekerjaan perjuangan sejati rakyat Papua, tidak ada yang remeh, baik gerakan legal maupun ilegal adalah perkerjaan yang penting. Jadi, kita tidak perlu mengungkapkan “saya sudah mengerjakan banyak hal” namun yang benar adalah “saya akan menerima pekerjaan apapun bentuknya”. Kita harus menghargai pekerjaan kawan, apapun hasilnya karena itu adalah cerminan pekerjaan kita sendiri dan seluruh organisasi.
Memegang pekerjaan dengan tanggungjawab, menilai berat ringannya pekerjaan sesuai dengan kapasitas yang dimiliki, antusiasme yang tinggi. Salah satu pekerjaan yang berat adalah bagaimana kita menciptakan antusiasme dalam kolektif. Sekecil apa pun pekerjaan dalam perjuangan sangat bernilai harganya.
Apa pandangan yang benar bagi seorang pejuang sejati rakyat Papua ketika menghadapi kesukaran hidup, penderitaan, dan kematian?
Dalam esai Pengabdian Kepada Rakyat, Mao Zedong tegas:
Semua manusia pasti akan mati, tetapi kematian bisa lebih berat daripada Gunung Tai, atau lebih ringan daripada bulu. Mengabdi untuk rakyat membuat kematian terasa lebih berat daripada Gunung Tai. Jika kita mati untuk kepentingan orang-orang yang mengeksploitasi kita dan menindas rakyat, kematian seperti itu akan lebih ringan daripada bulu.
Artinya, setiap perjuangan yang menuntut pengorbanan dan kematian adalah hal yang biasa. Tetapi karena dalam hati kita senantiasa terpatri kepentingan dan penderitaan rakyat, bilapun kita mati maka kematian kita adalah kematian yang sangat berharga.
Mati dan hidupnya seorang pejuang sangat berharga bagi rakyat Papua karena itu akan senantiasa hidup dalam kenyataannya. Berbeda halnya dengan penindas dan penghisap. Kehidupan mereka dibenci rakyat dan kematiannya disyukuri rakyat.
Menjadi bagian dari rakyat Papua dan merasakan penderitaan rakyat Papua, terus mengabdi kepada rakyat Papua dari waktu ke waktu, maka keberanian akan lahir dengan sendirinya. Kita tidak perlu takut dan bertanya dalam hati, seperti “apa saya akan mati?” atau “apakah saya akan dilupakan begitu saja setelah mati?”. Tidak akan ada kesia-sian jika hal itu terjadi dalam tugas atau mengabdi total pada rakyat Papua. Tentunya, kita selalu menghindari tindakan gegabah yang akan menyebabkan pengorbanan yang tidak perlu atau merugikan. Tindakan yang salah bisa disebabkan oleh kurangnya analisis yang tepat berdasarkan situasi yang kongkret, sikap petualanganisme, kepanikan, dan lain-lain. Di samping itu, kita harus menghormati seorang martir dalam perjuangan sejati dan belajar dari pengalaman mereka untuk dapat meneruskan cita-citanya, siapapun dia. Tidak penting bagaimana seorang pejuang mati, karena yang terpenting adalah “untuk siapa dia gugur?”. Untuk rakyat Papua ataukah untuk kelas yang berkuasa. Untuk siapa dia menderita? Untuk rakyat Papua ataukah untuk borjuasi? Ini menjadi soal penting bagi seorang pejuang sejati rakyat Papua sampai kapanpun hingga kemenangan tercapai.
Ujian dalam gerakan sejati rakyat Papua sesungguhnya adalah ketika ia menghadap kesukaran hidup, penderitaan, dan kematian. Godaan pikiran dan jalan keluar ala borjuasi kerap kali datang pada saat seorang pejuang menghadapi keadaan semacam itu. Hal itu bukanlah sesuatu yang luar biasa, sebab kita hidup di tengah godaan, ide, dan pikiran semacam itu. Akan tetapi “keluar-biasaan” seorang pejuang letaknya adalah apabila dia bisa bersatu dengan rakyat Papua karena ada kepentingan dan penderitaan rakyat Papua dalam hatinya, serta menolak seluruh pikiran dan ide borjuasi ketika menghadapi segala macam penderitaan karena alasan-alasan tersebut.
Semoga tulisan ini bermanfaat bagi kawan-kawan yang masih setia mengabdikan dirinya digaris perjuangan sejati rakyat Papua untuk pembebasan nasional dari penindasan imperialisme dan kolonialisme Indonesia.
Jabat hati.
***
Catatan: Penulis adalah Mantan Ketua Umum Aliansi Mahasiswa Papua (AMP). Tulisan ini ditulis oleh penulis pada 17 Oktober 2010 dan diterbitkan di media Komite Kerja untuk Demokrasi Rakyat Papua. Diterbitkan kembali untuk kepentingan pendidikan dan propaganda.
