Sekilas pengalaman saat masih menjadi murid di SD, SMP, dan SMA terlintas ketika saya melihat topeng dan lukisan ini. Topeng ini adalah salah satu dari tujuh topeng yang berbicara tentang Hidden Faces of Papua atau wajah-wajah tersembunyi Papua. Sebuah karya kolaborasi teman-teman Udeido, sebuah kolektif seni anak-anak Papua dengan seorang seniman Belanda, Kevin Van Braak. Pameran ini berlangsung pada bulan September di Studio Framer Framed, sebuah studio seni kontemporer di Belanda. Topeng-topeng ini menggambarkan situasi di Papua yang cenderung ditutupi bahkan dimanipulasi untuk tidak memperlihatkan situasi yang sebenarnya terjadi di lapangan. Topeng yang akan saya bahas adalah intepretasi salah satu dari ketujuh seniman, Otan dengan latar belakangnya sebagai seorang pengajar mengenai sistem pendidikan yang saat ini berlaku di Papua. Secara khusus, topeng ini berbicara tentang penindasan terhadap pengetahuan dan budaya masyarakat adat yang diturunkan oleh leluhur oleh sistem pendidikan nasional.
Terakhir kali saya belajar tentang budaya Papua melalui pendidikan formal adalah pada mata pelajaran Muatan Lokal (Mulok). Saat itu saya kelas X SMA di sebuah SMA Negeri di Jayapura. Semester pertama masih belajar tentang kebudayaan yang ada di Papua namun pada semester kedua, pelajaran tersebut tidak dilanjutkan dan diganti dengan Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH). Yang tentu saja adalah sebuah mata pelajaran penting melihat perlunya sistem pengelolaan sampah yang baik di Jayapura pada saat itu (hingga saat ini). Kami belajar tentang 3R, reduce (mengurangi), reuse (menggunakan kembali), dan recycle (mendaur ulang). Saya akan jujur dan mengatakan bahwa saya sudah melupakan materi lainnya yang kami pelajari di pelajaran PLH saat naik ke kelas dua dan tiga.
Lebih jauh sebelum itu, saya sangat menyukai pelajaran Mulok di SMP. Pak Guru mencoba untuk selalu menghubungkan kami dengan berbagai aktivitas yang dilakukan di kampung. Misalnya, ketika kami belajar memanah, kami diminta untuk mempersiapkan anak panah. saya ingat untuk minta om-om (adik atau keluarga laki-laki ibu saya) melakukannya (keuntungan menjadi seorang anak Yali). Om siapkan banyak sekali anak panah untuk saya pakai praktek di sekolah. Pada momen yang lain, kami belajar tentang tarian Yosim Pancar dan mempraktekkannya saat akhir semester. Waktu itu memang saya tidak memperhitungkan pelajaran-pelajaran ini dengan baik, hanya sebatas formalitas yang dilakukan untuk bisa dapat nilai dan naik kelas.
Mengingat lebih jauh pengalaman ketika di sekolah dasar, kenangan ini sangat dekat dengan rumah. Saya adalah lulusan dari sekolah Yayasan Pendidikan Kristen (YPK). Saya memilih sekolah ini setelah bertanya kepada ibu, bapak, om, mamade, kakak yang ada di rumah dan kompleks dimana mereka bersekolah, dan ternyata mayoritas dari mereka bersekolah di YPK. Akhirnya saya memutuskan untuk juga bersekolah disana. Pianika dan suling kami pelajari di pelajaran Mulok yang akhirnya selalu kami gunakan ketika ada acara ataupun kedukaan yang dialami keluarga dari guru dan teman sekolah di sekitar lingkungan sekolah. Kami menyanyikan lagu-lagu Seruing Mas, Suara Gembira, hingga Nyanyian Rohani, dan Kidung Jemaat (khususnya KJ. 368 saat kedukaan). Di tingkat atas (kelas 4-6 SD), kami belajar menari tari mapia dan tampil saat acara kelulusan. Setiap Jumat untuk olahraga, kami berolahraga dengan Yospan. Masa-masa yang sangat menyenangkan dan ternyata sangat berharga, ketika orang tua dan guru bekerja sama agar kami selalu melekat dengan sesuatu yang dulu dialami atau dilakukan orang tua ketika mereka masih kecil.
Tentu setiap sekolah di masing-masing kota punya budaya masing-masing yang dipraktekkan. Pengalaman saya berbeda dengan pengalaman pembaca yang membuat kenangan tentang hubungan dengan budaya di sekolah sangat kaya. Mungkin pembaca juga teringat pada budaya di sekolah masing-masing. Pertanyaannya, apakah sampai sekarang masih ada model-model pendidikan di tanah Papua yang secara langsung maupun tidak langsung membuat kita terhubung dengan alam dan budaya sebagai seorang Papua? Tentu pasti ada, teman-teman guru bisa menceritakan ini, namun pada pendidikan formal, saya sudah lama tidak melihatnya. Lebih jauh dari itu, yang terlihat adalah budaya-budaya baru yang diciptakan, menyebabkan nilai dan inti aktivitas yang selama ini dilakukan menghilang. Patung dan lukisan karya Otan yang dipamerkan di pada pameran Hidden Faces of Papua ini, membuat saya memikirkan pertanyaan tersebut sembari merefleksikan karya ini menurut pengalaman hidup saya yang tentu saja berbeda (atau mungkin ada bagian yang bersinggungan) dengan apa yang dipikirkan oleh Otan. Kira-kira wajah topeng ini siapa? Kenapa Ia menutup mata? Ada apa dengan alat tulis yang menutup telinganya? Atau itu maksudnya masuk telinga kiri dan keluar telinga kanan? Kenapa hidung, tempat kita bernafas ditutup oleh seragam sekolah yang dipakai murid-murid sekolah formal?

Refleksi pengalaman saya selama menjadi seorang anak murid di Papua, kami tidak punya banyak pilihan di sekolah. Guru-guru mengajarkan kami materi yang disediakan oleh sistem melalui buku cetak yang sudah disediakan. Kami di tingkat SD belajar menulis dengan kalimat seperti “Nama adik-adik saya adalah Budi dan Siti” bukan “Nama adik-adik saya adalah Obet dan Yolanda”. Maksudnya, kebanyakan contoh-contoh yang ada di buku tulis adalah contoh yang ditulis menurut konteks tempat kurikulum tersebut dikembangkan. Berarti apakah situasi yang dilakukan oleh sistem inilah yang menjadi ekspresi topengnya? Sistem pendidikan nasional menindas sistem pendidikan yang sudah ada di Papua pada adat masing-masing yang tidak perlu lagi dijadikan acuan.
Pengetahuan traditional (Indigenous knowledge) milik leluhur mengalami apa yang disebut dengan cultural imperialism atau peminggiran budaya karena pengetahuan yang diserap oleh anak-anak Papua lebih banyak adalah materi yang dibuat berdasarkan konteks sosial dan budaya dari luar Papua. Ketika pelajaran Mulok diubah menjadi pelajaran PLH, apakah ini menjadi salah satu titik yang memisahkan anak-anak Papua dengan mempelajari budayanya di bangku sekolah? Saya tidak menganjurkan untuk menutup diri dan meninggalkan sistem pendidikan yang ada sekarang begitu saja karena penting juga untuk terus belajar dan melihat dunia dengan lebih luas dan salah satu cara adalah dengan hadir di sekolah setiap hari saat ini. Yang saya tekankan adalah memberikan ruang bagi pendidikan yang kontekstual agar kendali sebagai orang Papua memeluk erat budayanya bisa terus dipegang seorang anak Papua.
Selain topeng, Otan juga melukiskan sebuah gambar sebagai latar belakang dari topeng ini. Dibagian kiri atas, ada Arnold Ap. Dulunya seorang kurator Museum Universitas Cenderawasih (Uncen) dan salah satu pendiri dari kelompok musik legendaris Papua, Mambesak. Sebuah group yang menjadi ancaman karena dengan lagu-lagunya, ikatan emosional masyarakat kembali terhubung dengan budaya dan alam, yang mengarahkan pada penyadaran situasi politik, ekonomi, dan sosial yang saat itu mengancam budaya Papua. Ada dua hal yang muncul dalam pikiran saya tentang wajah Arnold Ap pada lukisan ini. Pertama, mengenai kisah Arnold Ap yang dipenjarakan hingga akhirnya dibunuh, menunjukkan upaya sistem untuk menghentikan gerakan yang ia bangun dengan Mambesak karena topeng ini berbicara tentang wajah-wajah Papua yang tersembunyi. Kedua, pada sisi sebaliknya, menurut saya juga mengingatkan kembali bahwa upaya-upaya pendidikan kontekstual yang mempererat ikatan manusia, alam, dan budaya Papua punya peran besar dan sangat kuat untuk menumbuhkan rasa cinta dan bangga untuk mejaga tanah Papua.
Di bagian bawah Arnold Ap ada seorang pembela HAM perempuan, Zuzan C. Griapon yang disapa dengan Cinta. Cinta adalah pendiri dari Sekolah Alternatif Papua (SAP). Menurut dia dan SAP, sekolah harus gratis, kritis, dan demokratis. Penulis mendapatkan kesempatan untuk berjumpa dengan teman-teman SAP pada tahun 2023 dan di sebuah acara perayaan hari Masyarakat Adat Internasional. Murid-murid SAP hadir dan belajar tentang situasi masyarakat adat melalui foto-foto yang dipamerkan. Guru-guru SAP memiliki prosedur pelatihan sendiri untuk mengerti persoalan dan konteks Papua dengan benar sebelum pergi ke komunitas. Khususnya terhadap anak-anak yang kesulitan dengan akses ke sekolah juga anak-anak yang butuh pelajaran tambahan untuk bisa mengikuti pelajaran di kelas. Kurikulum yang dikembangkan juga menyesuaikan dengan kebutuhan anak-anak di lokasi masing-masing. Bagi kelompok anak-anak yang tinggal di komunitas orang Lani, guru-guru juga menambahkan pelajaran bahasa Lani. Sekolah alternatif ini menjadi salah satu bentuk melawan penindasan terhadap pendidikan kontekstual oleh sistem pendidikan nasional yang tidak mempertimbangkan konteks sosial dan budaya orang Papua, khususnya penindasan terhadap pengetahuan tradisional masyarakat seperti yang ditunjukkan dengan ekspresi topeng tersebut.
Menurut saya, selain untuk menunjukkan situasi sistem pendidikan yang sekarang diimplementasikan di Papua, karya ini juga menjadi sebuah harapan. Saya mengamati perkembangan upaya untuk menciptakan pendidikan kontekstual atau alternatif di tengah sistem pendidikan nasional yang ada seperti apa yang telah dilakukan oleh gereja, misalnya GKI melalui buku untuk belajar membaca seperti Itu Dia dengan contoh-contoh yang lebih kontekstual yang juga diterjemahkan ke dalam bahasa Yali menjadi Nare-Nare; lalu apa yang dilakukan oleh teman-teman Matbatinisiatif, yang bersama-sama menciptakan modul bahasa Matbat; modul belajar bahasa Inggris kontekstual yang dirancang oleh teman-teman Yayasan Sagu; kurikulum belajar yang dkembangkan oleh SAP dan saya yakin masih banyak lagi yang sudah dikembangkan.
Lalu, ambil tikar, alas dan, kitong cerita! Sepanjang perjalanan mendampingi beberapa komunitas adat, saya belajar tentang sesuatu yang disebut Traditional Ecological Knowledge (TEK) atau Pendidikan Ekologi Tradisional. Anak-anak di kampung masih ingat dan bisa menjelaskan cara membuat pagar yang tepat untuk kebun, kenapa tanah perlu digemburkan dengan dibakar, hingga kalender musim yang ada di kampung masing-masing agar orang tidak berburu dengan sembrono sepanjang tahun. Pengetahuan yang diturunkan oleh leluhur untuk memastikan hutan dan alam terjaga sehingga kita bisa terus hidup berintegrasi dengan alam. Pengetahuan ini diturunkan melalui storytelling (bercerita dan bertutur) di tempat tinggal masing-masing. Salah satu dari sekian banyak bukti bahwa pendidikan kontekstual sangat penting untuk menjaga ikatan manusia dan alam. Ikatan ini yang menghadirkan perasaan saya, terlebih lagi hormat terhadap alam untuk tidak merusaknya dalam skala luas demi menjaga keberadaan orang Papua.
***
Catatan: Penulis berharap pembaca dapat menceritakan tentang tokoh ketiga yang ada di lukisan ini juga intepretasi menurut pengalaman hidup masing-masing.
