Kita kerja dalam bayang-bayang yang dilindungi Sampari
Markus “Max” Binur, kami sering menyebutnya Kaka Max, menulis status singkat namun penuh makna di media sosialnya pada 5 September 2025: “Kita kerja dalam bayang-bayang dilindungi Sampari”. Pernyataannya terasa sangat mendalam jika merefleksikan dedikasi dan pengabdiannya dalam gerakan sosial di tanah Papua. Suatu ketika, dalam perbincangan di media sosial, ia menghentakkan saya: “Ade, tulis satu buku kah judulnya Jalan Sunyi,” tulisnya. Saya bertanya balik: “Tentang apa itu kak, menurut kaka?”. Ia kemudian menjawab dengan jelas, padat, dan menusuk. “Tentang kerja anak-anak Papua yang kerja tapi tidak tunjuk diri.”
Itulah yang sering Kaka Max sebutkan dengan jalan sunyi. Ia tidak hanya mengatakan tapi langsung memberikan contoh, mempraktikkan dalam laku hidup dan pandangannya seperti apa jalan sunyi tersebut. Kehangatannya, berjalan dari satu kampung ke kampung dengan membawa ukulele, mendampingi anak-anak muda, menjadi teman yang baik dalam berdiskusi, dan menggugah kesadaran akan kekuatan identitas budaya dan kesenian tidak akan pernah terlupakan. Sanggar-sanggar seni dan gerakan kebudayaan di kampung-kampung Papua, khususnya di wilayah Sorong Raya, menjadi saksi dari warisan Max Binur saat membuka jalan dan merawat jalan sunyi tersebut.
Max Binur adalah seorang pemikir, seniman, dan aktivis kebudayaan. Ia belajar ilmu antropologi budaya di Universitas Cenderawasih (Uncen) dan sejak mahasiswa aktif dalam kegiatan kebudayaan, lingkungan, dan Hak Asasi Manusia (HAM). Kesadaran kebudayaannya tertanam sekaligus terasah saat menjadi mahasiswa antropologi dan kemudian diterjemahkannya dalam praksis hidupnya. Keyakinannya, saat bergerak dari kampung ke kampung, sang sampari (bintang pagi) akan selalu memberikan tuntunan, lindungan, sekaligus membukakan jalan dimanapun berada. Keyakinan teologi pribumi ini melekat kuat dalam gerakan sosial pembebasan Papua. Pada level yang lebih personal, gerakan kesenian dan kebudayaan dalam arti luas, sangat erat berkaitan dengan keyakinan kehadiran para leluhur orang Papua dalam setiap langkah “menghidupkan” kesenian dan kebudayaan tersebut.
Dari Kampung ke Kampung
Salah satu inspirasi penting Max Binur sudah tentu adalah Mambesak, salah satu gerakan kebudayaan terpenting dalam sejarah sosial di tanah Papua. Max Binur dan kawan-kawannya terinspirasi Mambesak dan kemudian membawakan lagu-lagunya. Tidak hanya itu, Max Binur juga bergabung dalam kelompok musik Black Paradise yang menghasilkan satu album Spirit of Mambesak (2004) dan mengaransemen lagu-lagu Mambesak.
Kaka Max mengambil inspirasi dari metode gerakan kebudayaan Mambesak. Arnold Ap yang berjalan dari satu kampung ke kampung untuk melakukan penelitian kebudayaan sekaligus mencatat lagu, cerita rakyat, dan tari-tarian. Saat Mambesak terbentuk, mereka bekerja dengan menugaskan anggota-anggotanya untuk turun ke kampung-kampung menginventarisasi lagu-lagu daerah dan gerak-gerak tariannya. Fokus para anggota Mambesak ini adalah mencatat lagu tersebut dan merekam bagaimana suara masyarakat yang memainkannya pada sebuah tape perekam sederhana. Energi suara dari lagu-lagu daerah inilah yang akan digunakan sebagai dasar untuk mengaransemen ulang lagu tersebut ketika sudah sampai di Jayapura. Max Binur memodifikasi metode ini dengan menginisiasi sanggar-sanggar kesenian di kampung-kampung yang dikunjunginya. Ia ingin anak-anak di kampung menghidupi kebudayaannya sendiri di kampung mereka, tidak di kota. Anak-anak muda yang tertarik belajar bisa tinggal di komunitasnya yang sederhana bernama Belantara Papua di Kota Sorong. Anak-anak dari kampung, beberapa diantaranya anak-anak dari Sorong dan Raja Ampat belajar dan hidup di Belantara Papua. Mereka belajar melakukan kegiatan kebudayaan, belajar mengadvokasi kasus lingkungan, menginisiasi pendidikan berkonteks budaya Papua, dan mendampingi berbagai permasalahan orang Papua yang pelik.
Max Binur sangat terbuka dengan kerjasama-kerjasama yang mendukung pemikiran dan gerakannya di komunitas, terutama sekali pembentukan dan penguatan sanggar-sanggar seni yang menjadi perhatian utamanya. Tidak terkecuali dengan program-program pemerintah. Tapi seringkali yang Ia sampaikan dengan sedikit ketus dan kritis adalah bahwa ada atau tidak program bantuan atau dukungan pemerintah, gerakan kebudayaan di tanah Papua akan terus berjalan sendiri mencari bentuknya. “Ada atau tidak au (kalian) pu (punya) program itu, kitong (kita) akan terus ada dan bergerak di kampung-kampung, “ ujarnya dalam suatu kesempatan yang saya ingat.
Fokus perhatiannya yang utama adalah pada generasi muda Papua. Oleh sebab itulah, banyak anak muda Papua yang bersaksi tentang kehangatan dan keterbukaan Max Binur dalam mendampingi dan mendengar imajinasi anak-anak Papua dimanapun itu, baik di kampung-kampung maupun di wilayah urban. Ia juga menjadi tempat untuk berkeluh, bersandar, dan meminta berbagai pertimbangan. Ia menyentuh tanah, tidak menjaga jarak. Ia menjadi perekat, tidak memutus. Ia mengalirkan mimpi anak muda papua, tidak menghambat.

Salah satu warisan pentingnya sudah tentu adalah komunitas Bengkel Pembelajaran Antar Rakyat (Belantara) Papua di Kota Sorong yang didirikannya bersama beberapa sahabat pada 5 Agustus 2004, tepat dengan tanggal berdirinya grup Mambesak yang menginspirasinya. Belantara Papua menjadi rumah dan komunitas epistemik bagi gerakan sosial khususnya wilayah kepala burung Papua.
Spirit Manusia Papua
Salah satu catatan Max Binur yang kuat dan menginspirasi adalah artikel panjangnya berjudul Menyanyi dan Menarikan Air Mata Papua (2005) yang diterbitkan oleh Prakarsa Rakyat, Inisiatif Perlawanan Lokal Simpul Kepala Burung Papua periode Juli – September 2005. Ia menulis dengan sepenuh jiwanya dan menempatkan gerakan kebudayaan (musik, lagu, tarian) sebagai ekspresi identitas yang penting dan oleh karenanya harus terus diperjuangkan. Bagi Max Binur, musik, lagu, dan tarian bisa menjelma menjadi senjata untuk memperjuangkan ekspresi identitas budaya tersebut. Sebagai media, musik, lagu, dan tarian memiliki kekuatan untuk membangkitkan kemarahan, kesedihan, suka cita, dan persaudaraan.
Max Binur menuliskan bahwa musik, lagu dan tarian adalah spirit manusia Papua dan dengan media itulah mereka bicara. Proses menggumuli sekaligus mengerti kekuatan musik, lagu, dan tarian Papua membutuhkan pemahaman tentang konteks perjuangan orang Papua atas identitas dan kedaulatan dirinya. Tekanan dan represi mendalam yang dihadapi orang Papua dalam relasinya dengan negara ini menjadikan musik, lagu, dan tarian sebagai media yang menggelorakan jati diri Papua, suatu identitas yang selama ini berusaha diberangus.
Setiap lagu dan tari memancarkan keyakinan dan harga diri seorang Papua. Untuk memahaminya, kita harus menyelami ke dalam lagu dan tari itu sendiri, dan kita akan mulai mengerti sesuatu tentang Papua. Lewat lagu kebudayaan diangkat, dan hidup rakyat dimuliakan. Lirik dan ragam yang memuja misteri serta kemolekan alam Papua, menyatakan kembali legenda dan tradisi, memberikan pengetahuan dan kearifan, juga ratapan, tawa, dan kegalauan. Berbisik tentang keseharian hidup, perjuangan serta harmoni kebersamaan. Lagu menjadi lem perekat jiwa, spirit, dan mengobarkan kembali identitas melalui tradisi oral.
Tantangan terbesar dan teramat berat bagi gerakan kebudayaan di tanah Papua adalah mempertahankan berbagai bentuk tari dan musik menjadi identitas budaya. Meski bergerak dinamis seni dan budaya tetaplah harus menjadi bagian yang dimiliki, dipahami, dan menjadi satu dalam “diri Papua” yang kontekstual, tidak tercerabut dari akar, sehingga mampu menuntun manusia Papua ke arah kesejatian hidup, saat ini, dan di masa depan.
***
