Lao-Lao
Analisa Harian

Membaca ‘The Politics of Distraction’ di Papua

Apakah kita bisa menjelaskan akar seluruh persoalan Papua hanya dengan tiga kata? Bisa. Jawabannya, perebutan sumber daya. Kapitalisme, imperialisme, rasisme, dan segala isme itu terjadi karena perebutan sumber daya alam di Papua. Bisa diperdebatkan tetapi mungkin di lain kesempatan karena tulisan singkat ini tidak berfokus kepada perdebatan itu, tetapi ingin mencoba menelusuri mengapa banyak orang terlihat tidak peduli dengan persoalan yang sedang terjadi di tengah-tengah kehidupan orang Papua, juga mengapa kebanyakan orang berdebat dan saling marah dengan persoalan yang merupakan dampak dari akar masalah. Atau berdebat mengenai persoalan yang tidak sampai pada pembahasan-pembahasan kunci untuk menyelamatkan keberadaan alam dan masyarakat asli Papua. Salah satu dari sekian banyak faktor penyebab yang menurut penulis menarik dan (mungkin) perlu dipertimbangkan untuk diperhitungkan adalah, the politics of distraction (politik distraksi) atau politik pengalihan (isu).

Artikel yang tidak begitu serius ini adalah hasil refleksi dari sebuah perbincangan di sebuah siniar yang dibawakan oleh tiga profesor dari Harris School of Public Policy, The University of Chicago yang bernama Not Another Politics Podcast. Siniar ini mendiskusikan artikel-artikel politik ilmiah yang terkait dengan politik Amerika Serikat. Pada salah satu episode yang dikeluarkan pada tanggal 19 November 2020, mereka membahas sebuah artikel ilmiah yang diterbitkan oleh seorang ahli ekonomi, Ruben Durante bersama rekannya Ekaterina Zhuravskaya mengenai The Politics of Distraction. Saat itu, Amerika sedang heboh dengan proses kampanye dalam rangka pemilihan Presiden Amerika ke-59 antara dua kandidat, yaitu Donald Trump dan Joe Biden. Para narasumber menceritakan pengalaman mereka dengan media Amerika yang setiap hari menyediakan berita mengenai proses pemilihan presiden saat dunia sedang mengalami konflik-konflik yang parah: pasukan Israel menyerang rumah-rumah orang Palestina, Etiopia mulai melakukan operasi militer yang menyebabkan perang saudara, Putin dengan aktivitasnya dan masih banyak kejadian lain yang terjadi pada tahun 2020.

Lebih lanjut, Durante dalam tulisannya berfokus kepada konflik Israel-Palestina. Ia menemukan bahwa kemungkinan besar pasukan Israel akan melakukan penyerangan pada saat perhatian dunia sedang teralihkan dengan persoalan lain. Durante menambahkan, jika kita melihat dari sudut pandang seorang politikus, kita bisa mendapatkan momen untuk melakukan sesuatu yang tidak populer saat media sedang tidak memperhatikan, saat opini publik sedang dialihkan pada persoalan lain. Pada contoh kasus yang diteliti oleh Durante dan Zhuravskaya, karena salah satu partner terkuat Israel adalah Amerika, mereka cenderung melakukan tindak kejahatan saat mayoritas warga Amerika sedang fokus terhadap situasi politik nasional yang terjadi di Amerika. Dari konflik yang dipelajari inilah kedua penulis tersebut mengambil kesimpulan bahwa ada aktor-aktor yang menggunakan situasi dimana masyarakat sedang teralihkan untuk melakukan sesuatu agar tindakan mereka tidak diperhatikan dan berhasil mencapai tujuan yang mereka inginkan.

Baca Juga:  Perang West Papua Tiada Ujung

Para narasumber yang berdiskusi pada siniar tersebut mencoba untuk mencari tahu apa saja yang menyebabkan aktor-aktor tertentu tersebut memilih taktik ini sebagai salah satu strategi. Salah satu alasan, mereka menggunakan momen tertentu dan fokus media terhadap momen tersebut. Contohnya, Piala Dunia dan upaya media menaikkan rating. Banyak yang akan menyoroti event dunia tersebut sehingga jika ada satu yang mencoba untuk menceritakan konflik, kemungkinan konflik tersebut tenggelam cukup besar. Pemilihan waktu yang strategis menjadi opsi yang menarik terutama dengan agenda-agenda besar yang sedang terjadi secara global. Diskusi mengenai artikel ilmiah yang sangat menarik ini dapat pembaca dengarkan melalui layanan siaran siniar terdekat.

Penulis menyadari bahwa, politik mengalihkan ini terjadi setiap hari di kehidupan masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat Papua. Salah satu bentuk contoh yang menarik bagi penulis, melihat berita-berita nasional akhir-akhir ini adalah saat semua media menyoroti persoalan uang kuliah yang sangat mahal. Setiap media sosial menyoroti berita tersebut, membuat masyarakat berdiskusi, berdebat, marah melihat situasi ini. Di saat yang bersamaan, RUU Penyiaran dibahas. RUU yang tentu saja dapat mempengaruhi apakah tulisan ini bisa terus ada atau tidak. Ini hanyalah salah satu contoh untuk mengajak pembaca mengingat kembali contoh pengalihan yang dilakukan saat pemerintah secara strategis menentukan waktu atau momen untuk membahas isu yang sangat penting.

Tentu saja upaya politik untuk mengalihkan fokus masyarakat jauh dari persoalan yang ada, atau mengakar bisa terjadi secara sengaja dan tanpa sengaja. Namun, penting untuk kita semua bisa mengkategorikan mana saja pengumuman, kebijakan, program, acara yang adalah sebuah tindakan yang direncanakan, secara tidak langsung difasilitasi oleh media sehingga kita terperangkap dan berfokus kepada persoalan yang sebenarnya tidak menyentuh pembahasan mengenai akar masalah yang terjadi di Papua. Beberapa fenomena terjadi di Papua yang menurut penulis adalah upaya pengalihan yang dilakukan aktor tertentu agar masyarakat Papua tidak sadar dengan persoalan yang terjadi disekitar mereka. Aktor-aktor yang memanfaatkan situasi ini menggunakan berita yang buruk sekali pada situasi tertentu, juga berita yang bahagia sekali pada situasi lainnya. Penulis mencoba memulai diskusi ini dengan beberapa contoh kejadian yang terjadi, yaitu:

Baca Juga:  Gerakan Mahasiswa Revolusioner: Teori dan Praktek

Pembentukan Daerah Otonomi Baru

Sejak narasi bahwa Provinsi Papua akan dipecah menjadi beberapa provinsi, kebijakan ini telah ditolak dimana-mana oleh orang Papua. Namun pemerintah pusat tetap mengesahkan ini, mengabaikan posisi Majelis Rakyat Papua (MRP) sebagai pemegang tugas sebenarnya jika perlu ada pemekaran. Argumen koentji yang selalu dipakai untuk mendorong pemekaran ini adalah agar pembangunan di Papua lebih merata. Setelah menonton Dirty Vote oleh Watchdoc, apakah argumen tersebut masih valid? Sampai saat ini, justru semakin banyak konflik terutama konflik kepentingan dan identitas yang muncul. Orang Papua dialihkan konsentrasinya dari menciptakan konsep pembangunan berkelanjutan yang sesuai dengan kearifan lokal, sekarang harus bersaing dengan lebih banyak transmigran yang tiba di tanah Papua.

Narasi Presiden Jokowi Membangun Papua

Beberapa orang di Papua akan tersinggung jika mendengar pernyataan yang mengkritik Presiden Jokowi selama masa pemerintahannya di Papua. Penulis mengingat lirik lagu Jang Ganggu milik Shine of Black, yang seharusnya “Ko stop sudah dengan ko pu takalekang karna tong dua bangun cinta tara gampang” dirubah menjadi “Ko stop sudah dengan ko pu takalekang, pak Jokowi bangun Papua tara gampang.” Ya tentu saja, membangun sebua provinsi dimana pun itu tidak mudah. Di saat yang bersamaan, jumlah pelanggaran HAM yang terjadi di Papua, investasi yang merusak hutan dan manusia Papua, deforestasi besar-besaran, pemecahan Provinsi Papua yang mendatangkan lebih banyak trans sehingga orang asli menjadi terpinggirkan, food estate yang gagal, PSN yang sudah disahkan dan tidak bisa diintervensi tenggelam begitu saja karena pembangunan jalan trans (dan infrastruktur lainnya) yang dibuat pada pemerintahan Presiden Jokowi.

Konser DMP

Tolong jangan dulu protes. Penulis adalah salah satu penikmat lagu-lagu yang dinyanyikan oleh Doorman’s Project ini. Begitu berita DMP akan datang dan melakukan konser di tanah Papua, semua media sosial begitu ramai dan terus membagikan berita ini, hingga pada hari-H banyak sekali masyarakat yang meramaikan acara tersebut. Pada minggu yang sama dengan hari-H DMP konser di Jayapura pada 27 April 2024, pemerintah menyatakan niat untuk memperpanjang kontrak Freeport selama 20 tahun atau 2061. Salah satu berita yang tenggelam dengan hebohnya kedatangan kelompok musik asal Kepulauan Solomon ini adalah aksi-aksi yang menuntut keadilan bagi beberapa anak muda yang disiksa pada bulan Maret 2024. Kondisi Papua yang sebenarnya tidak baik-baik saja sirna seketika.

Baca Juga:  Ketika Pangan di NTT Dikendalikan Kartel Ekonomi dan Politik

Ada satu bentuk pengalihan yang terjadi secara tidak langsung namun dampaknya cukup penting menurut penulis, yaitu:

Influencer Kuali Merah Putih dan Content Creator yang Menukarkan Makanan

Penulis menyadari sebuah content creator pada sebuah aplikasi yang selalu menukarkan makanan, khususnya hasil kebun dengan mie instan, atau seorang influencer yang berkeliling dengan sebuah kuali besar, yang disponsori oleh Tango sehingga banyak membawa air gula rasa susu ke kampung-kampung. Kedua individu ini berhasil mendapatkan rasa iba dari masyarakat yang ada di luar Papua. Khususnya creator yang sering menukarkan makanan akhirnya mendapatkan cukup dana untuk membagi-bagikan paket makanan di dalam sebuah kantong berisi mie instan. Bukan sebuah kekerasan tentu saja, namun penjajahan pangan yang terjadi di Papua oleh hadirnya semua yang serba instan ini, menyebabkan perubahan pola pangan yang akhirnya bergantung kepada makanan yang dibawa dan diproduksi dari luar. Apalagi jika dibawa ke tempat yang peredarannya cukup jarang. Tentu saja akan menarik perhatian untuk dicoba.

Contoh-contoh di atas ini mewakili isu yang serius dan isu yang bersembunyi dibalik kata ‘hiburan’. Apakah salah jika ada penyanyi yang datang ke Papua? Tidak. Apakah salah jika sangat mengidolakan presiden? Tidak juga. Mungkin akan sangat menarik jika saat konser-konser tersebut ada sebuah spanduk berukuran besar dengan kampanye mengenai situasi Papua yang sebenarnya. Artikel ini mencoba untuk mengajak pembaca merefleksikan kejadian-kejadian di masa lampau yang adalah berita penting yang sayangnya tenggelam untuk diperhatikan dan ditindaklanjuti karena ada berita bahagia yang mengalihkan fokus untuk menyelesaikan persoalan yang sedang terjadi.

Artikel singkat yang tidak serius ini juga berharap, dengan pembahasan the politics of distraction ini, kita semua dapat melihat setiap berita dengan seksama dan tetap bisa fokus dengan persoalan-persoalan mendasar yang terjadi. Sehingga, meskipun banyak kejadian baru yang muncul secara tiba-tiba, bersama-sama masih bisa fokus kepada isu inti untuk kita perjuangan demi menjaga keberadaan alam dan manusia Papua yang sudah semakin sedikit ini.

***

Konten Terkait

Martabat Manusia dan Kasus Mutilasi di Timika Papua  

Midi Vilexz Kogoya

In Memoriam Max Binur: Jalan Sunyi dalam Lindungan Sampari

I Ngurah Suryawan

Praktek Penindasan Dalam Liberalisme Sistem Pendidikan

Elias Hindom

Mahakarya Otsus : Manusia Papua Bermental Uang

Aleks Hesegem

Makanan dan Minuman Lokal “Sagu dan Bobo”

Rut Ohoiwutun

Buruh Harian Lepas di Kebun Sawit, Cerita Mama Aleta Soap dari Arso Timur

Asrida Elisabeth

26 comments

Avatar
Fandynox 21 Juli 2024 at 12:38

Terimakasih kak Dorthea Elisabeth, artikel ini telah membuka mata dan yang ingatan kami yang telah redup tentang apa yang terjadi di Papua, namun begitu cepat isu isu hilang karna munculnya isu isu yang di atur pemerintah untuk melupakan apa yang terjadi di Papua.

Reply
Avatar
Dorthea 21 Juli 2024 at 21:23

Terima kasih banyak sudah baca! ^^

Reply
Avatar
allpino 10 Oktober 2024 at 03:02

Kaka Defe terimakasih sudah tulis, mewakili kami anak anak yang selalu akan gelisah gara-gara kecil orang papua yang berujung pada lahirnya kerugian besar di segala aspek hidup orang papua.

Tahnks.. Tetap menulis dan bersuara 🤝

Reply
Avatar
Uropmabin 8 Februari 2025 at 00:43

Artikel ini sangat membantu dan membuka wawasan kita akan permainan kolonial dalam mengalikan isu politik di Papua.

Reply
Avatar
Kama Ron's 21 Juli 2024 at 23:56

Sa kira DOB sama dengan DEI (Devide et Impera)
Sa kira DMP itu kepanjangan dari Dewan Musyawarah Pepera eh malah DMP sekarang jdi Ajang Distrak..
Sa kira kuali tu de “hitam gosong”, ternyata de pu warna merah putih eh..wah

Reply
Avatar
Rhony James wesareak 22 Juli 2024 at 10:00

Luar biasa sangat benar dan sekarang kita muda mudi Papua harus punya kesadaran yang tinggi untuk menyikapi hal ini dan bagaimana kita pemuda/i Papua mencari dan menemukan solusi untuk masalah ini.
Ini tanggungjawab kita bersama.
Terimakasih banyak untuk penulis Dorthea Elisabeth.TUHAN YESUS KRISTUS MEMBERKATI 🙏🫡💚

Reply
Avatar
Aksa 22 Juli 2024 at 11:32

Terimakasih banyak kak Dorothea Elisabeth saya sangat setuju dengan spanduk besar itu dan Itu harus🙏🫡 hari ini 22juli besok 23 juli Hari anak nasional presiden hadir Mentri juga hadir ivent besar juga tratau Apa lagi yang mau di bikin semoga ada spanduk besar yang tertempel di depan Stadion Lukas Enembe itu🥹❤️‍🔥🌹🌹🌹

Reply
Avatar
Ichad 23 Juli 2024 at 05:25

Salam ade Insos, kk sudah baca ade punya artikel yg singkat tpi sangat membuka mata pikiran kita untuk terus sadar bahwa kita sdh kalah d semua lini,

“We Need to Stand with Our Self”
Kores ✊🏿✊🏿✊🏿

Reply
Avatar
Jefri 23 Juli 2024 at 04:05

Tulisan pendek yang sangat dalam untuk direnungkan oleh setiap generasi emas Orang Papua, yang ditulis oleh Adik Defe merupakan Fakta yang terjadi selama ini di atas Tanah Papua dan hal itu benar-benar terjadi. Indonesia selama 50 tahun lebih ini memulai sesuatu di atas Tanah Papua dengan Jelek (tipu-tipu), maka Indonesia akan terus memperbesar kejelekannya, masalah Papua akan selamanya menghantui Indonesia jika tidak diselesaikan secara Bermartabat. Salam Waras untuk Orang Papua yang masih Waras.

Reply
Avatar
Janty 23 Juli 2024 at 10:14

Terima kasih untuk artikel singkat dengan makna yang sangat dalam ini kak Defe. Saat DMP datang untuk menggelar konsernya, saya juga sempat berpikir bahwa ini adalah pengalihan isu makanya saya tidak ikut berpartisipasi waktu itu & ternyata itu benar karena diperkuat dengan adanya analisa dari kk. Za berharap semoga setelah membaca artikel ini, mata orang Papua jadi semakin terbuka.

Reply
Avatar
Naramda Kyeuwkyeuw 23 Juli 2024 at 14:46

Terimakasih banyak untuk Kaka Dorothea yang sdh membuat tulisan pendek tapi banyak makna seperti ini,saya secara pribadi ketika membaca artikel ini,jujur lngsung merasa bahwa yash benar selama ini kami di alihkan oleh berita2 viral yang menjadi pengalihan isu. Dan seketika saya merasa bahwa benar kt sebagai generasi harus terus belajar dan awere terhadap semua topik2 terkait tong pu tanah ini. you’re such an inspiration Kk nona🥹🫶🏻🙏.

Reply
Avatar
Naramda Kyeuwkyeuw 23 Juli 2024 at 14:48

Terimakasih banyak untuk Kaka Dorothea yang sdh membuat artikel pendek tapi banyak makna seperti ini,saya secara pribadi ketika membaca artikel ini,jujur lngsung merasa bahwa yash benar selama ini kami di alihkan oleh berita2 viral yang menjadi pengalihan isu. Dan seketika saya merasa bahwa benar kt sebagai generasi harus terus belajar dan awere terhadap semua topik2 terkait tong pu tanah ini. you’re such an inspiration Kk nona🥹🫶🏻🙏.

Reply
Avatar
Son 23 Juli 2024 at 17:47

Benar sekali kk. Ijin share 🙏

Reply
Avatar
Aser Semunya 23 Juli 2024 at 21:14

Jadi ingat kasus penganiayaan terhadap warga sipil (yang disiksa dalam drem ), kasus itu begitu viral diberbagai media sosial dan mendapatkan perhatian dari berbagai kalangan masyarakat di Papua, terkhusus anak muda.
namun kasus itu tiba tiba tenggelam dan hilang ketika muncul isu konser DMP di Jayapura.

Tulis terbaik merawat ingatan
Terima kasih kak non.🥲🙏🏿

Reply
Avatar
Jenny 23 Juli 2024 at 22:27

Kk DEFE, artikelnya sangat membantu diri kt untk kedepannya lebih teliti untuk memahami situasi yg terjadi❤️

Reply
Avatar
wene 24 Juli 2024 at 14:42

Saran saya perlu bentuk Tim Militan yang terdiri dari Generasi muda Papua, untuk memproteksi kepentingan Jakarta.
Terima kasih untuk tulisannya, yang memberikan wawasan buat generasi muda Papua 🤙🏻

Reply
Avatar
Arnold Einstein 25 Juli 2024 at 11:23

Upaya untuk menghidupkan kesadaran, kk dorthea kapan ketemu? Alam semesta berkati.

Reply
Avatar
Zeth 26 Juli 2024 at 06:05

Semoga “masyarakat sadar” bisa semakin banyak. Terima kasih sudah mengingatkan melalui tulisan ini. 🙏

Reply
Avatar
Diron 27 Juli 2024 at 19:48

Terimakasih kak Dorthea, artikel yang singkat tapi sangat membuka mata dan pikiran kita untuk menghidupkan kesadaran orang papua
syowi ma kasumasa

Reply
Avatar
Mambibi 18 Agustus 2024 at 23:59

Doa terbaik buat tong pu tanah Papua. Tulisan ini sangat bermanfaat buat generasi muda Papua

Reply
Avatar
Ellymelek Hanasbey 27 Agustus 2024 at 16:25

Terima kasih atas artikel yang sangat hebat dan penting!!!, “Tong semua terlena sampe tong lupa deng tong pu Tanah ini”

Reply
Avatar
Ambo 27 Agustus 2024 at 17:03

This is an eye opening. Terimakasih sis Defe untuk tulisannya. Smoga generasi Papua lebih tokus dan peka dalam melihat situasi Papua. Stop jadi orang yang “bagai air di daun talas”

Reply
Avatar
Desi Ireeuw 27 Agustus 2024 at 21:14

kaka defee, terima kasih sudah menjadi salah satu bagian dari sebuah kata yang tertulis “pejuang”, terima kasih juga buat tulisan bermakna ini, terima kasih buat kaka punya perpanjangan tangan untuk membantu kami orang papua, terkhusus buat sulu awyu dan moi, Tuhan Yesus selalu memberkati kaka dan keluarga semua ❤️

Reply
Avatar
balim 28 Agustus 2024 at 13:12

Terima kasih daudari Dorthea, saya baca artikel sangat sendi karena bulan Agustus 2024 di papua situasi benanar-benar terjadi seperti a apa yg tulis di artkel ini

Reply
Avatar
balim 5 September 2024 at 09:44

terima kasih saudari Defe untuk artikel juga banayak OAP belum sandar hanya ikut ikutan serus jadi artikel singkat tapi banyak manffaat dan masyarakat papua bisa membuka mata. supaya kedepan tidak ikut ikutan lagi.

tuhan yesus memberkasi kita semua DEFE

Reply
Avatar
Gusthyn 28 Januari 2025 at 11:57

Terima kasih Saudari untuk artikel ini. Semoga banyak OAP membaca artikel ini dan merekfleksikan hal-hal yang terjadi di Papua.
again Thank you sister.

Reply

Kirim Tanggapan