Saya ke Kaimana, tepatnya di kampung Lobo pada Maret 2026. Selain jalan-jalan, juga saya anggap sebagai perjalanan batin yang membuat saya ingin melihat dan memahami sejauh mana Papua dan segala isinya.
Di Lobo saya dengar cerita mitos dari masyarakat setempat yang menantang saya membuat catatan ini. Mitos tentang ‘burung besar dan ular besar’ yang masih tetanam kuat dari generasi ke generasi di Kaimana.
Ceritanya begini.
Konon, di atas Gunung Emansiri yang puncaknya menjulang persis di atas kampung Lobo, Kaimana, hidup seekor burung jenis elang yang sangat besar.
Di tempat itu juga hidup seekor ular yang sangat besar. Bagian kiri dan kanan gunung itu sangat terjal. Ular itu tidak kemana-mana, hidupnya bergantung pada sisa-sisa makanan yang dijatuhkan oleh burung tersebut. Makanan burung itu berupa binatang dari hutan, ikan, atau apa saja yang bisa di makan. Kabarnya, burung ini biasa terbang sampai Fakfak, sampai ke seluruh wilayah Papua, bahkan sampai ke luar Papua. Kemana pun ia pergi, pasti kembali ke tempat asalnya di Gunung Emansiri, Kampung Lobo, Kaimana.
Pada suatu hari, warga sekitar kampung Lobo melihat burung itu terbang sambil mengangkut sebuah perahu kole-kole yang di dalamnya ada satu orang untuk jadi mangsanya menuju ke atas puncak Gunung Emansiri. Warga sekitar menjadi terancam dan ketakutan ketika melihat peristiwa itu.
Sejak saat itu, warga kampung mencari ikan hanya pada malam hari. Dan warga yang mau ke kebun pada siang hari harus gerombolan. Jadi, ketika burung itu terbang melintasi tempat itu, warga akan bersembunyi sampai burung itu pergi.
Suatu ketika, di pesisir pantai kampung Lobo, warga kampung duduk dan membicarakan bagaimana caranya supaya mengusir atau membunuh burung itu. Tiba-tiba dari kejauhan laut ada kapal layar besar bertiang tiga yang datang menuju kampung Lobo. Warga yang awalnya sedang duduk membahas bagaimana caranya untuk membunuh burung itu, tiba-tiba kaget dengan kedatangan kapal itu.
Hingga mereka tiba di bibir pantai kampung Lobo, warga kampung kaget karena ada orang asing di dalam kapal itu. Melalui bahasa isyarat, warga kampung bercerita mengenai burung itu dan ular besar yang ada di Gunung Emansiri yang membuat warga ketakutan.
Keesokan harinya, orang-orang asing itu membuat jebakan memakai anjing di atas rakit kecil dan dibiarkan terapung di pinggir laut. Orang-orang asing dan warga kampung memantau dari sekitar tempat itu. Tiba-tiba burung itu datang dan membawa rakit dan anjing itu. Tembakan mulai dilakukan oleh orang-orang asing ke burung itu. Ini membuat kedua sayapnya patah dan mati di sebuah pulau kecil di dekat kampung Lobo. Karena burung ini sangat besar hampir seluruh bagian tubuhnya menutupi pulau itu.
Hari itu juga, pada malam hari, orang-orang asing pergi ke gunung Emansiri. Mereka melihat ular besar seperti yang diceritakan warga kampung. Orang asing juga melihat ulang besar itu tinggal dan bermain bersama batu permata.
Mereka mulai keluarkan tembakan ke arah ulang itu. Dan ulang itu pergi dari tempat itu. Orang-orang asing mengambil batu permata itu dan mereka pergi tinggalkan kampung Lobo.
Daerah dalam cerita itu yang kemudian dikenal dengan nama Teluk Triton. Sisa-sisa fosil tulang burung yang diceritakan di atas masih ada di pulau itu. Tangga atau alat-alat lain, termasuk goa ketika orang asing juga memanjat gunung itu masih ada sampai saat ini.
Pendahuluan
Saya ke Kaimana di kampung Lobo, lalu mendengar cerita ini, membuat saya bertanya pada diri saya: sebagai orang Papua, siapa sebenarnya saya?
Pertanyaan-pertanyaan seperti itu selalu terlintas di kepala saya. Saya tahu bahwa sebelum Indonesia lahir sebagai negara modern, sebelum Belanda, Portugis, dan berbagai kekuatan kolonial menancapkan pengaruhnya di tanah Papua, masyarakat Papua telah memiliki sistem pengetahuannya sendiri. Pengetahuan itu tidak ditulis dalam buku-buku atau arsip negara, melainkan hidup dalam cerita, nyanyian, mitologi, ritual, gunung, laut, dan ingatan kolektif para leluhur.
Dunia modern sering menganggap pengetahuan hanya sah apabila ditulis dalam buku, jurnal, arsip negara, atau laporan penelitian. Padahal, selama ribuan tahun, masyarakat-manusia membangun peradaban melalui tradisi lisan. Sebelum universitas berdiri, sebelum mesin cetak ditemukan, sebelum perpustakaan modern dibangun, pengetahuan diwariskan melalui cerita, lagu, ritual, simbol, dan memori kolektif. Papua merupakan salah satu wilayah di dunia yang memiliki kekayaan tradisi lisan yang luar biasa.
Setiap suku memiliki kisah penciptaannya sendiri. Setiap gunung memiliki sejarahnya. Setiap sungai memiliki narasi leluhur. Setiap wilayah menyimpan cerita tentang hubungan manusia dengan alam dan dunia spiritual. Bagi masyarakat modern, cerita tersebut sering dianggap mitos atau belum tentu benar. Namun bagi masyarakat adat, mitologi bukan kebohongan, mitologi adalah cara suatu bangsa menjelaskan dunia, Ia menjawab pertanyaan tentang asal usul manusia, hubungan dengan alam, makna kehidupan, kematian, moralitas, dan masa depan. Karena itu, ketika sebuah mitologi hilang, yang hilang bukan sekadar cerita, melainkan hilangnya cara suatu bangsa memahami dirinya sendiri.
Di Kampung Lobo, Kabupaten Kaimana, saya menemukan kembali salah satu sumber pengetahuan tersebut melalui kisah burung besar dan ular besar di Gunung Emansiri. Bagi sebagian orang modern, kisah ini mungkin hanya dianggap legenda. Namun bagi masyarakat adat Papua di Kaimana, cerita seperti ini merupakan bagian dari memori kolektif yang menjaga hubungan manusia dengan alam, sejarah, dan kekuatan spiritual leluhur.
Pertanyaannya adalah mengapa narasi-narasi seperti ini semakin hilang dari ruang publik Papua? Mengapa generasi muda Papua lebih mengenal mitologi luar dari pada kisah-kisah yang hidup di tanahnya sendiri? Dan bagaimana tradisi lisan dapat menjadi alat pembebasan bagi masyarakat Papua hari ini?
Tradisi Lisan Sebagai Pengetahuan
UNESCO, sebuah organisasi pendidikan, keilmuan, dan kebudayaan dibawa Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menjelaskan bahwa tradisi lisan bukan sekadar cerita rakyat, tetapi merupakan sarana pewarisan nilai sosial, pengetahuan budaya, dan memori kolektif suatu masyarakat. Ketika sebuah bahasa atau tradisi lisan hilang, maka hilang pula cara suatu bangsa memahami dunia.
Dalam konteks Papua, tradisi lisan tidak hanya menyimpan cerita hiburan. Ia menyimpan filsafat hidup, hubungan manusia dengan alam, sistem etika, pengetahuan ekologis, dan identitas kolektif masyarakat adat. Penelitian mengenai masyarakat adat di berbagai belahan dunia menunjukkan bahwa tradisi lisan sering kali menyimpan pengetahuan sejarah dan lingkungan yang bertahan selama ratusan bahkan ribuan tahun.
Kisah burung dan ular di Gunung Emansiri harus dibaca bukan hanya sebagai dongeng, tetapi sebagai simbol hubungan antara manusia, alam, kekuatan spiritual, dan perubahan sosial yang terjadi ketika kekuatan asing memasuki wilayah masyarakat adat Papua.
Kolonialisme dan “Budaya Bungkam”
Pemikir pendidikan dari Brasil, Paulo Freire, dalam bukunya Pedagogy of the Oppressed (1968), menjelaskan bahwa salah satu dampak utama penindasan adalah lahirnya culture of silence atau budaya bungkam. Masyarakat yang mengalami dominasi politik, ekonomi, maupun budaya sering kehilangan kepercayaan terhadap pengetahuan mereka sendiri dan mulai melihat dunia melalui perspektif pihak yang mendominasi mereka. Pengalaman Papua memiliki kemiripan dengan konsep tersebut. Selama berabad-abad, narasi resmi tentang Papua lebih banyak ditulis oleh pihak luar: misionaris, pemerintah kolonial, birokrat negara, peneliti asing, hingga perusahaan-perusahaan besar. Akibatnya, banyak pengetahuan lokal dianggap tidak ilmiah, tidak modern, bahkan tidak penting.
Ketika anak-anak Papua lebih mengenal kisah-kisah dari luar dibanding kisah leluhur mereka sendiri, maka yang terjadi bukan sekadar perubahan budaya. Yang terjadi adalah proses pelemahan kesadaran historis. Dalam bahasa Freire, pembebasan dimulai ketika masyarakat kembali membaca realitasnya sendiri, memahami sejarahnya sendiri, dan berbicara dengan suaranya sendiri.
Gunung Emansiri dan Spirit Pembebasan
Kisah burung dan ular di Gunung Emansiri di kampung Lobo mengandung simbol yang menarik. Burung digambarkan sebagai penguasa langit yang memiliki kekuatan luar biasa. Ular hidup bergantung pada sisa-sisa makanan yang dijatuhkan oleh burung tersebut. Kehadiran orang-orang asing kemudian mengubah keseimbangan yang telah lama ada. Kisah ini dapat dimaknai sebagai narasi tentang kekuasaan, perubahan, dan intervensi dari luar.
Namun yang lebih penting bukanlah membuktikan apakah burung itu benar-benar pernah ada. Yang lebih penting adalah memahami mengapa masyarakat Lobo terus menjaga cerita tersebut dari generasi ke generasi. Cerita itu hidup karena memiliki makna dan menjadi pengingat bahwa alam Papua bukan sekadar sumber daya ekonomi. Gunung, laut, hutan, dan satwa memiliki hubungan spiritual dengan masyarakat yang hidup di sekitarnya. Pandangan ini sejalan dengan berbagai kajian internasional yang menunjukkan bahwa pengetahuan masyarakat adat merupakan sumber penting bagi pelestarian lingkungan dan keberlanjutan kehidupan. UNESCO bahkan menegaskan bahwa pengetahuan adat memiliki kontribusi penting bagi pemahaman tentang biodiversitas, perubahan iklim, dan pembangunan berkelanjutan.
Dekolonisasi Pengetahuan dan Jalan Pembebasan Papua
Pembebasan Papua tidak selalu harus dimulai dari politik praktis. Pembebasan juga dapat dimulai dari upaya mengingat kembali siapa diri kita. Ketika masyarakat Papua kembali mendengar cerita leluhurnya, mempelajari bahasa daerahnya, memahami mitologi, lagu, tarian, dan filosofi hidup nenek moyangnya, maka sesungguhnya sedang berlangsung proses dekolonisasi pengetahuan. Dekolonisasi bukan berarti menolak ilmu pengetahuan modern. Sebaliknya, dekolonisasi berarti menempatkan pengetahuan adat dan ilmu modern dalam posisi yang setara. Tradisi lisan tidak boleh dipandang sebagai lawan ilmu pengetahuan. Ia adalah bentuk pengetahuan yang berbeda. Masyarakat Papua memerlukan universitas, teknologi, penelitian, dan pendidikan modern. Tetapi pada saat yang sama, Papua juga memerlukan ruang untuk menghidupkan kembali cerita-cerita seperti cerita burung dan ular di kampung Lobo, Koreri di Biak, Hai di Amungme, Siwa di Maybrat, Fentori di Lembah Kebar, Kuri Pasai dan Inggorosai di Wondama serta berbagai teologi dan kosmologi pribumi lainnya yang telah membentuk identitas Papua selama berabad-abad.
Dalam Pedagogy of the Oppressed (1968) juga, Freire menjelaskan bahwa penindasan tidak hanya berlangsung melalui kekerasan fisik atau penguasaan ekonomi. Penindasan juga berlangsung melalui penguasaan pengetahuan. Kelompok yang didominasi secara terus-menerus akan mulai memandang dirinya melalui kacamata pihak yang mendominasi mereka. Mereka perlahan kehilangan kepercayaan terhadap budaya, bahasa, sejarah, dan cara berpikir mereka sendiri. Dalam konteks Papua, kolonialisme pengetahuan telah berlangsung selama berabad-abad. Pengetahuan tentang Papua lebih banyak ditulis oleh orang luar dibandingkan oleh orang Papua sendiri.
Papua dipetakan oleh penjelajah asing. Papua diteliti oleh antropolog asing. Papua dijelaskan oleh birokrat negara. Papua didefinisikan oleh institusi luar. Akibatnya, masyarakat Papua sering menjadi objek pengetahuan, bukan subjek pengetahuan. Kita dipelajari, tetapi jarang diberi ruang untuk menjelaskan diri kita sendiri. Kita dijelaskan, tetapi jarang diberi kesempatan untuk berbicara. Kita ditafsirkan, tetapi jarang dipercaya untuk menafsirkan dunia dari perspektif kita sendiri. Di sinilah dekolonisasi pengetahuan menjadi penting. Dekolonisasi pengetahuan bukan berarti menolak ilmu pengetahuan modern. Dekolonisasi bukan anti sains. Sebaliknya, dekolonisasi berarti mengakui bahwa terdapat banyak cara untuk mengetahui dan memahami dunia. Universitas dan laboratorium memiliki pengetahuan, tetapi masyarakat adat juga memiliki pengetahuan. Bagi masyarakat adat, gunung, laut, hutan, cerita leluhur, adalah bentuk pengetahuan dan layak dihormati.
Krisis Bahasa Papua
Salah satu tanda paling nyata dari kolonialisme pengetahuan juga adalah hilangnya bahasa daerah atau bahasa ibu. Bahasa bukan sekadar alat komunikasi, tetapi rumah bagi cara berpikir suatu bangsa. Dalam bahasa tersimpan filsafat, humor, nilai moral, hubungan sosial, serta pengetahuan ekologis yang berkembang selama ratusan bahkan ribuan tahun. Papua merupakan salah satu wilayah dengan keragaman bahasa terbesar di dunia. Para ahli linguistik memperkirakan terdapat lebih dari 250 bahasa asli di Papua. Jumlah ini menjadikan Papua sebagai salah satu pusat keanekaragaman bahasa dunia. Namun di balik kekayaan tersebut tersembunyi ancaman yang serius.
Banyak bahasa Papua saat ini berada dalam kondisi terancam punah. Generasi muda semakin jarang menggunakan bahasa ibu mereka. Bahasa Indonesia mendominasi ruang pendidikan, birokrasi, media, dan komunikasi formal. Globalisasi menambah tekanan melalui media digital dan budaya popular. Ketika sebuah bahasa hilang, yang hilang bukan hanya kosakata, melainkan cara masyarakat memahami hutan, laut, musim, hewan, tumbuhan, dan hubungan sosial. Dalam banyak bahasa Papua terdapat istilah-istilah yang tidak dapat diterjemahkan secara utuh ke dalam bahasa lain. Istilah tersebut memuat pengalaman hidup yang unik.
Ketika bahasa itu hilang, pengalaman tersebut ikut hilang karena itu perjuangan menjaga bahasa Papua bukan sekadar upaya budaya, Ia adalah perjuangan mempertahankan sistem pengetahuan.
Mitologi sebagai Epistemologi
Salah satu kesalahan terbesar dunia modern adalah menganggap mitologi sebagai lawan dari ilmu pengetahuan, padahal dalam banyak masyarakat adat, mitologi berfungsi sebagai epistemologi. Epistemologi adalah cara manusia memperoleh pengetahuan. Dalam masyarakat adat Papua, pengetahuan tidak hanya diperoleh melalui pengamatan empiris, tetapi juga diperoleh melalui pengalaman spiritual, hubungan dengan leluhur, simbol alam, dan cerita kolektif. Kisah burung dan ular di kampung Lobo dapat dibaca melalui perspektif ini.
Pertanyaan yang paling penting bukanlah apakah burung itu benar-benar ada, tetapi mengapa masyarakat terus mempertahankan cerita tersebut dari generasi ke generasi. Cerita yang bertahan lama biasanya mengandung makna sosial yang penting: menjadi alat pendidikan, sarana membangun identitas, dan media untuk memahami hubungan manusia dengan lingkungan. Dalam konteks ini, mitologi tidak berada di luar realitas, tetapi bagian dari realitas sosial masyarakat itu sendiri.
Juga, ketika dunia modern menghadapi krisis iklim, kerusakan hutan, pencemaran laut, dan hilangnya keanekaragaman hayati, banyak ilmuwan mulai mengakui pentingnya pengetahuan masyarakat adat. Apa yang selama ini dianggap ‘tradisional dan kuno’ ternyata menyimpan banyak pelajaran bagi keberlanjutan kehidupan manusia. Papua memiliki peluang besar untuk menawarkan perspektif tersebut kepada dunia. Tetapi hal itu hanya mungkin terjadi apabila masyarakat Papua sendiri masih menghargai warisan pengetahuan mereka.
Mengapa Kita Harus Kembali?
Kembali bukan berarti mundur, bukan berarti menolak modernitas, tetapi mengambil dari akar agar kita tidak kehilangan arah. Bangsa yang kehilangan ingatan akan mudah diarahkan oleh kepentingan orang lain. Bangsa yang kehilangan bahasa akan sulit mempertahankan identitasnya. Bangsa yang kehilangan cerita leluhurnya akan kehilangan orientasi moral dan spiritual. Karena itu, kebangkitan Papua harus dimulai dari kebangkitan kesadaran. Sekolah-sekolah perlu memberi ruang bagi sejarah lokal. Universitas perlu meneliti pengetahuan adat secara serius. Pemerintah daerah perlu mendukung dokumentasi bahasa-bahasa Papua. Gereja, masjid, dan lembaga sosial perlu membantu menjaga memori kolektif masyarakat. Generasi muda Papua perlu didorong untuk menulis, mendokumentasikan, dan menceritakan kembali kisah-kisah leluhur mereka.
Perjalanan saya ke Kampung Lobo mengajarkan bahwa penting untuk ‘pulang untuk kembali’. Pulang berarti kembali kepada ingatan, bahasa, cerita, dan hubungan spiritual dengan tanah yang telah membesarkan kita. Di bawa Gunung Emansiri, saya menyadari bahwa kekuatan terbesar Papua bukan hanya emas yang terkandung di dalam tanahnya, bukan pula kekayaan laut yang membentang di sepanjang pesisirnya, tetapi pengetahuan yang hidup dalam masyarakatnya—yang diwariskan melalui cerita, bahasa, yang dijaga oleh para tetua, yang hidup di gunung, hutan, sungai, dan laut.
Jika Papua ingin membangun masa depan yang bermartabat, maka pembangunan itu tidak boleh hanya bertumpu pada infrastruktur dan investasi. Pembangunan harus dimulai dari pemulihan ingatan. Karena bangsa yang mengenal dirinya sendiri tidak akan mudah kehilangan arah dan mungkin sebagaimana burung besar dalam kisah Gunung Emansiri yang selalu kembali ke tempat asalnya setelah terbang jauh. Masyarakat Papua pun perlu melakukan hal yang sama: terbang sejauh mungkin untuk belajar dari dunia, tetapi selalu kembali kepada akar pengetahuan yang membentuk dirinya. Di situlah makna terdalam dari perjalanan ini: pulang untuk kembali.
Kekuatan terbesar Papua adalah ingatan kolektif yang masih hidup dalam cerita para leluhur. Selama cerita-cerita itu masih diceritakan, selama bahasa-bahasa Papua masih diucapkan, selama gunung, laut, dan hutan masih dipandang sebagai bagian dari kehidupan spiritual masyarakat adat, maka Papua belum kehilangan dirinya. Dan mungkin di situlah pembebasan—yang sesungguhnya—dimulai: bukan ketika kita menjadi seperti bangsa lain, tetapi ketika kita kembali mengenali siapa diri kita sebagai orang Papua.
Di bawah bayang-bayang Gunung Emansiri yang menjulang tinggi di atas Kampung Lobo, saya mendengar kembali kisah yang telah hidup selama beberapa generasi dalam ingatan masyarakat setempat: kisah burung dan ular. Kisah tentang seekor burung raksasa yang menguasai langit dan seekor ular yang hidup di kaki gunung. Kisah yang diwariskan dari mulut ke mulut jauh sebelum hadirnya negara modern, jauh sebelum Belanda, Portugis, Jepang, Indonesia, dan berbagai kekuatan global lainnya datang ke tanah Papua. Ketika saya berdiri di hadapan gunung itu, saya tidak melihat sekadar bentang alam. Saya melihat sebuah perpustakaan hidup. Saya melihat ingatan yang disimpan oleh masyarakat adat melalui cerita, simbol, dan hubungan spiritual dengan alam. Di situlah saya mulai memahami bahwa persoalan terbesar Papua hari ini mungkin bukan semata-mata persoalan ekonomi, pembangunan, atau politik. Persoalan terbesar kita adalah hilangnya hubungan dengan sumber pengetahuan kita sendiri.
***
Referensi
Freire, Paulo. 1968. Pedagogy of the Oppressed. New York: Continuum.
UNESCO. 2003. Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Takbenda. Paris.
