Perpaduan antara kebosanan dan kecemasan yang melahirkan fenomena doomscrolling bukanlah sekadar kebiasaan khas generasi tertentu. Fenomena ini berkaitan erat dengan sistem ekonomi yang membuat semakin banyak orang terjebak dalam pekerjaan yang tidak memuaskan sekaligus serba tidak pasti.
Setelah satu tahun dan tiga kali lockdown akibat Covid-19, muncul optimisme yang terasa nyata seiring dibukanya kembali berbagai aktivitas sosial pada musim panas itu dan harapan untuk meninggalkan kebosanan selama masa karantina.
Namun, kebosanan yang kita alami secara kolektif selama lockdown sangat berbeda dengan kebosanan yang dialami generasi-generasi sebelumnya. Dahulu, kebosanan dirasakan sebagai kehampaan yang menyelimuti karena kurangnya aktivitas. Kini, kebosanan justru muncul karena kita terus-menerus dibanjiri rangsangan dan gangguan. Ia hadir dalam kejenuhan akibat menggulir layar tanpa tujuan, kebosanan karena terus-menerus menggeser konten, serta dorongan refleks untuk meraih ponsel setiap kali ada jeda sekecil apa pun dalam aktivitas kita. Ponsel telah menjadi semacam perpanjangan tubuh yang nyaris tak terpisahkan.
Perasaan bosan seperti ini memang berkembang seiring kemajuan teknologi baru, tetapi akar pendorongnya terletak pada perubahan kondisi sosial dan ekonomi. Dalam sebuah artikel tahun 2014, Institute of Precarious Consciousness berargumen bahwa setiap fase perkembangan kapitalisme melahirkan apa yang mereka sebut sebagai “dominant reactive affect” atau emosi dominan yang menjadi respons khas masyarakat terhadap kondisi zamannya. Emosi atau disposisi ini muncul secara luas dan berkaitan dengan cara produksi yang sedang berlaku.
Pada masa Keynesianisme pasca Perang Dunia II, kehidupan sosial ditandai oleh konsumsi massal, tingkat pekerjaan yang tinggi, dan sistem kesejahteraan yang relatif murah hati. Namun, kemakmuran relatif pada periode tersebut juga melahirkan kelesuan sosial yang meluas, yang pada gilirannya memunculkan berbagai bentuk politik perlawanan.
Pada masa itu, kebosanan dalam kehidupan domestik kelas menengah bahkan didiagnosis secara medis sebagai housewife syndrome atau “sindrom ibu rumah tangga”. Kondisi ini kemudian menjadi salah satu pemicu lahirnya feminisme gelombang kedua melalui karya-karya seperti The Feminine Mystique (1963) karya Betty Friedan, sebuah buku klasik yang berani mengungkap apa yang disebutnya sebagai “masalah yang tak memiliki nama”. Pemberontakan tahun 1968 juga sering dipahami sebagai perlawanan terhadap apa yang oleh sosiolog Michael E. Gardiner disebut sebagai “kerja yang membius dan berulang-ulang, serta konsumerisme dangkal” dalam kapitalisme yang dikelola negara.
Singkatnya, gerakan-gerakan tersebut merupakan pemberontakan terhadap kebosanan.
Teoretikus budaya Mark Fisher melihat kegagalan kiri terorganisasi pada periode tersebut sebagian disebabkan oleh ketidakmampuannya mengembangkan kritik terhadap kebosanan. Akibatnya, terbuka ruang yang dimanfaatkan oleh para pendukung pasar bebas radikal untuk menyamakan stabilitas demokrasi sosial pasca perang dengan kemonotonan dan birokrasi yang menyesakkan. Sebagai gantinya, kaum neoliberal menawarkan sensasi kebaruan, ketidakpastian, dan dinamika yang terus berubah, yang diwujudkan melalui deregulasi pasar dan finansialisasi ekonomi.
Kini, kebosanan telah digantikan oleh kecemasan sebagai suasana batin yang semakin dominan di kalangan generasi muda. Hal ini tidak mengherankan. Di negara-negara kapitalis maju, pengikisan berbagai perlindungan yang diperjuangkan selama puluhan tahun sejak gelombang neoliberalisme menerjang empat dekade lalu telah membuat kondisi dasar pekerja sebagai tenaga yang mudah digantikan kembali dianggap wajar. Saat ini, sekitar satu dari sepuluh orang dewasa di Inggris dan seperempat pekerja di Amerika Serikat menggantungkan hidup pada ekonomi gig (gig economy), bertahan secara finansial melalui pekerjaan serabutan, kontrak jangka pendek, dan berbagai bentuk kerja nonstandar lainnya.
Salah satu cara untuk melegitimasi keadaan baru ini adalah dengan memperluas logika kerja ke hampir seluruh aspek kehidupan sosial, termasuk cara individu memandang dirinya sendiri. Setiap orang didorong untuk melihat dirinya sebagai seorang wirausahawan yang harus terus meningkatkan “modal manusia” yang dimilikinya melalui pencitraan diri, promosi diri, dan pengelolaan reputasi pribadi. Semua itu dibungkus dengan narasi tentang kebebasan dan fleksibilitas yang konon ditawarkan oleh kondisi ekonomi yang semakin cair dan dinamis.
Namun, yang lahir dari situasi tersebut justru adalah rasa putus asa yang meluas, terutama di kalangan anak muda yang bahkan sebelum pandemi sudah menghadapi masa depan yang suram. Tingkat kecemasan di kalangan warga Inggris berusia 18–24 tahun meningkat tiga kali lipat sejak 2008, sementara penggunaan obat-obatan anti kecemasan mencapai tingkat tertinggi sepanjang sejarah selama masa pandemi.
Salah satu wujud paling nyata dari kecemasan yang lahir dari kondisi serba tidak pasti (prekariat) adalah penggunaan media sosial yang bersifat kompulsif. Mark Fisher mencetuskan istilah depressive hedonia untuk menggambarkan keadaan yang tampak paradoksal: para remaja berusaha mengatasi tekanan emosional dalam hidup mereka, seperti rendahnya rasa percaya diri, kesepian, dan kelelahan, dengan terus-menerus mencari kesenangan sebagai bentuk pelarian. Tren yang mengkhawatirkan ini diperkuat oleh berbagai penelitian yang menunjukkan bahwa kaum muda semakin sering menggunakan ponsel pintar untuk mengompensasi perasaan depresi dan kecemasan.
Di balik fenomena ini terdapat logika sirkular yang oleh penulis Marcus Gilroy-Ware disebut sebagai filling the void (mengisi kehampaan). Platform media sosial berupaya menawarkan solusi atas kecemasan dan keterasingan yang justru mereka ikut ciptakan melalui pencarian keuntungan. Kebiasaan menggulir lini masa tanpa henti atau berpindah-pindah konten hingga larut malam memang dapat meredakan kebosanan untuk sementara. Namun pada akhirnya, kebiasaan tersebut justru memperparah kecemasan dan keterasingan yang bersumber dari kondisi sosial yang lebih mendasar.
Tentu ada manfaat jika kita kembali mampu menghadapi kebosanan dalam pengertian yang lebih tradisional, tanpa perhatian kita terus-menerus dipecah oleh hiruk-pikuk rangsangan digital. Kondisi semacam itu mungkin dapat mendorong kreativitas dan refleksi diri yang diperlukan untuk membangun keterlibatan politik yang lebih sehat, yaitu keterlibatan yang tidak mudah berujung pada kelelahan (burnout) atau kepahitan yang sia-sia di media sosial. Namun, politik yang bertumpu pada nostalgia terhadap era pra-digital juga sulit dibayangkan. Internet tidak akan menghilang. Selain berbagai dampak buruknya, internet juga membawa banyak manfaat, mulai dari membangun pertemanan dan hubungan romantis hingga mendukung pendidikan dan pengorganisasian politik.
Karena itu, yang perlu dilakukan adalah mencari cara untuk mempolitisasi kecemasan dan distraksi yang menjadi ciri zaman ini. Langkah pertama adalah menolak kecenderungan neoliberal yang memandang gangguan emosional semacam itu sebagai masalah individu yang hanya membutuhkan solusi individual. Pendekatan sosialis seharusnya memahami penggunaan media sosial yang kompulsif sebagai gejala dari kecemasan yang meluas. Media sosial sekaligus menjadi ruang untuk membangun citra diri demi meningkatkan daya jual di pasar, sebagai respons terhadap rasa kesepian dan ketidakberdayaan yang dihasilkan neoliberalisme, sekaligus menjadi sarana pelarian dari kondisi tersebut, meskipun pada akhirnya pelarian itu tidak pernah benar-benar berhasil.
Pendekatan semacam itu juga menuntut kita melampaui metafora perilaku tentang “kecanduan” yang kini banyak dipromosikan oleh para mantan petinggi industri teknologi di Silicon Valley yang menyesali dampak produk mereka. Sebaliknya, kita perlu memahami apa yang disebut Gilroy-Ware sebagai hedonic media consumption atau konsumsi media yang berorientasi pada pencarian kesenangan. Fenomena ini bukan terutama lahir dari kurangnya disiplin diri, melainkan dari ketiadaan kekuatan kolektif yang diperlukan untuk memaksa terjadinya perubahan sosial.
Dalam jangka pendek, ada alasan untuk berharap bahwa kebosanan yang bercampur dengan kecemasan dan membesar selama masa lockdown akan berangsur mereda seiring dicabutnya berbagai pembatasan sosial dan kembalinya kesempatan untuk bertemu serta berinteraksi langsung dengan sesama. Ketika layar gawai mulai kehilangan sebagian daya tariknya di hadapan kehidupan sosial yang kembali terbuka, kita mungkin dapat melihat sekilas kemungkinan masa depan yang lebih membebaskan. Namun, masa depan seperti itu hanya dapat terwujud jika kita secara kolektif berupaya membongkar struktur-struktur yang menjadi sumber kegelisahan dan ketidakpuasan yang kita alami saat ini.
***
Catatan: Tulisan ini awalnya diterbitkan di Tribunemag pada 24 April 2021 dengan judul asli “How Capitalism Created Doomscrolling”. Tulisan ini diterjemahkan oleh Ismail Al Alam, editor IndoPROGRESS. Diterbitkan kembali disini untuk tujuan pendidikan dan propaganda.
