Lao-Lao
Analisa Harian

Mengapa Rakyat Papua Harus Mendukung Kemerdekaan Palestina?

Di Papua, perayaan hari-hari agama memanifestasikan diri dalam dukungan terhadap Palestina maupun Israel. Ketika Idul Fitri kaum Muslim mengibarkan bendera Palestina, sementara Paskah kaum Kristiani mengibarkan bendera Israel. Seolah konflik yang terjadi adalah konflik agama. Tapi kedua pihak ini salah, tidak tau sejarah, dangkal, dan merusak perjuangan suci rakyat Palestina menjadi debat kusir yang tidak berguna.

Konflik Israel-Palestina jelas merupakan konflik kepentingan ekonomi-politik. Tidak ada antek-antek agama, apalagi omong kosong Kristen vs Islam. Sejarahnya sudah jelas, motif politiknya sudah jelas, sehingga hanya orang-orang bodoh yang tidak memahaminya. Merubahnya menjadi konflik agama hanya membelokkan esensi masalah menjadi debat kusir yang tidak berguna. Kita akan lihat bagaimana tesis ini benar dalam pemeriksaan yang tepat.

Asal Usul Israel: Bukan Bangsa Tanpa Tanah tapi Kolonialisme Pemukim

Israel dimitoskan sebagai bangsa asli di wilayah yang hari ini diduduki. Tapi sejarah membuktikan bahwa ini adalah pendudukan ilegal yang diprakarsai pertama kali pada Abad ke-19. Saat itu ekonomi politik dunia berkembang ke tahapan yang dikenal sebagai tahap akhir perkembangan kapitalisme dunia, yaitu imperialisme. Epos ini adalah monopoli dunia ke dalam genggaman segelintir kapitalis tua Eropa Barat.

Inggris menguasai sebagian wilayah Afrika, demikian Belgia, Prancis, dan seterusnya dalam perebutan untuk menguasai terutama saat itu adalah wilayah-wilayah kaya sumber daya alam di Afrika dan Asia. Dalam suasana itulah bangkit pula perasaan di antara orang-orang Yahudi Eropa Barat untuk mencari kolonialisme pemukim yang akan dijadikan sebagai, bukan hanya daerah koloni, tapi tempat untuk mendirikan negara baru.

Sentimen ini kemudian semakin menguat dengan naiknya sentimen anti Yahudi di Eropa Barat yang membuat keberadaan Yahudi semakin terancam. Di bawah kepemimpinan Theodor Herzl, Kongres Pertama Zionis-Yahudi digelar di Basel, Switzerland tahun 1897 untuk membahas masa depan Yahudi. Kongres memutuskan agar kolonialisme sporadis yang dilakukan selama tahun 1882-1897 untuk ditata ulang. Tapi gagasan ini awalnya tidak banyak diminati oleh banyak komunitas Yahudi di Eropa, karena peluang migrasi ke Amerika Serikat atau Argentina dilihat lebih mungkin dan aman dibanding membangun kolonialisme baru di wilayah Arab.

Setelah Kongres Pertama, diputuskan bahwa kolonialisme pemukim di Arab harus diatur ulang dengan lebih terorganisir. Pertama akan menggandeng kekuatan terorganisir, yaitu lobi-lobi dengan kekuatan finansial dan janji-janji manis kepada Kaisar Ustamiah untuk memberi otonomi bagi kolonialisme pemukim Zionis-Israel di Palestina. Gagasan ini menyasar Semenanjung Sinai sebagai batu loncatan untuk menguasai Palestina. Tapi upaya ini tidak mendapat dukungan serius dari Ustamiah.

Taktik kemudian dipindahkan juga dengan mencari dukungan dari Jerman dan Inggris untuk membantu pembiayaan dan akses kepada pemukiman-pemukiman baru serta lahan-lahan yang dibuka untuk bagi kolonialisme pemukim. Tapi sekali lagi, upaya ini mendapat respon yang negatif. Sebagaimana dicatat oleh Sejarawan Palestina, Fayez, bahwa hingga dekade akhir Abad ke-19, proyek Zionis ini tidak membawa kemajuan yang signifikan, tapi jelas upaya baru sedang dilancarkan untuk menduduki tanah orang-orang Palestina.

Manifesto Basel 1897 memutuskan sesuatu yang sangat jelas, bahwa kolonialisme pemukim Zionis-Israel mempunyai suatu yang berbeda dengan kolonialisme bangsa-bangsa non Yahudi. Apabila yang lainnya boleh hidup berdampingan dengan penduduk asli, kolonialisme Zionis-Israel berbeda. Ia harus membersihkan penduduk setempat (genosida) dan membangun rumah yang secara eksklusif ditempati oleh mereka sendiri. Gagasan inilah yang melahirkan praktik rasial dan pengusiran paksa penduduk Palestina hingga hari ini.

Baca Juga:  "Makan Gratis, Mati Gratis" 

Memasuki periode Perang Dunia I, sebagaimana dicatat oleh Ilan Pape, bahwa keberhasilan proyek pendudukan ini hanya baru mencapai 1% yaitu total jumlah pemukim Israel yang dikirim untuk menduduki tanah Palestina. Namun ini kemudian bergerak menjadi 8% tidak lama setelah itu. Pada tahun 1917, angin segar kemudian datang kepada kolonialis Zionis-Israel melalui persekutuan antara mereka dan Inggris.

Ambisi Inggris dan Proyek Zionis

Kekuasaan Ustamiah selama berabad-abad menguasai sebagian wilayah-wilayah Afrika, Eropa, dan Arab. Tapi memasuki akhir Abad ke-19, rumah adikuasa ini gugur satu-satu dalam rengkuhan kebangkitan Eropa. Hampir sebagian besar wilayah Afrika jatuh ke tangan Eropa, sementara wilayah-wilayah di kawasan Arab masih bercokol dalam naungan Ustamiah.

Inggris di satu sisi membutuhkan akses cepat ke koloni terkaya mereka, India. Tapi itu berarti berbicara soal penguasaan penuh jalur paling vital bagi perdagangan mereka, yaitu Terusan Zues. Inggris awalnya menaruh minat kerja sama dengan kekuasaan Ustamiah, tapi setelah perpindahan Ustamiah ke Blok Sentral, ambisi ini gugur dengan sendirinya. Di bawah tekanan yang sama, Inggris dipaksa berunding dengan Perancis dan Rusia tahun 1916 mengenai rampasan wilayah-wilayah bekas jajahan Ustamiah.

Berdasarkan kesepakatan ini, Perancis akan semakin dekat dengan Terusan Zues dan dengan begitu kenyamanan Inggris terganggu. Inilah yang mendorong Inggris untuk merubah taktik, yaitu mendorong pion mereka, atau lebih tegasnya, sebuah “boneka baru” yang akan menjadi penyanggah kekuasaan mereka di Timur Tengah, terutama Semanjung Sinai, tapi juga yang paling vital adalah Terusan Zues. Dalam kondisi inilah mereka mendapat koneksi langsung dengan kebangkitan Zionis-Israel yang ada saat itu.

Persekutuan jahat ini menguntungkan kedua sisi. Inggris mendapat rezim boneka untuk mengusung kepentingan mereka, sementara Zionis-Israel mendapat sokongan adidaya untuk menopang proyek kolonialisme mereka. Timbal balik antara dua kepentingan ini, mendorong penghancuran paling massal bagi bangsa Palestina untuk pertama kalinya.

Sayed mencatat bahwa, kerja sama dua agresor ini selama 30 tahun menghasilkan perubahan-perubahan yang luar biasa. Inggris mengakui organisasi Zionis dunia, menunjuk Yahudi Zionis-Israel sebagai komisioner pertama di Palestina, membangun dan memelihara lembaga militer (Haganah), melatih pasukan perangkat gesit (Palmach), dan lain-lain. Di sektor yang lain, Inggris terus mendorong perluasan permukiman Israel di Palestina, melobi jaringan internasional, dan sebagainya. Dalam waktu sekejap, perubahan meningkat menjadi 12 kali lipat untuk kolonialisme pemukim di Palestina.

Persekutuan ini terus berlanjut hingga Perang Dunia II. Setelah melemahnya Inggris, Zionis-Israel kemudian berpindah haluan kepada kekuatan baru yang tengah bangkit, yaitu Amerika Serikat sebagai pemenang Perang Dunia II.

Amerika Serikat dan Israel

Mitos yang berkembang luas di antara kita adalah persekutuan antara Amerika dan Israel adalah solidaritas lintas agama. Tapi ini adalah omong kosong paling besar di abad ini. Amerika Serikat sebagai pemenang Perang Dunia II, seperti halnya Inggris di masa sebelumnya, membutuhkan pion untuk mengamankan kepentingan mereka di Timur Tengah. Dalam makna inilah Zionis-Israel yang paling memungkinkan untuk hal itu.

Baca Juga:  Sorakpatok: Papua Darurat Militer dan Kemanusiaan

Mengantisipasi kebangkitan nasionalisme Arab yang terus bergelora di satu sisi, tapi juga pengamanan Terusan Suez sebagai jalur perdagangan paling vital, akses pangkalan di Timur Tengah untuk mempengaruhi arah gerak negara-negara kaya sumber daya alam, itulah landasan Amerika Serikat mau bekerja sama, bahkan memperkuat posisi Israel sebagai, yang disebut oleh Jhon Rosa, “Anjing Penjaga mereka di Timur Tengah”.

Melalui Liga Bangsa-Bangsa atau sekarang PBB, Aamerika Serikat dengan cepat mendorong pendirian negara Yahudi di Palestina. Deklarasi negara Israel dilakukan tahun 1948, setelah penghancuran paksa penduduk Palestina. Israel mengusir lebih dari 700.000 hingga 750.000 warga Palestina keluar dari tanah mereka. Dukungan penuh datang dari Amerika Serikat. Peristiwa ini kemudian dikenal sebagai Nakba Pertama atau bencana paling massal, massif, yang menyerang penduduk Palestina yang menduduki wilayah tersebut sejak ribuan tahun yang lampau.

Amerika Serikat terus membiayai Israel untuk mendorong pemusnahan etnis Palestina disana. Tujuan Amerika bukan hanya untuk menghapus bangsa Palestina, tapi memperkokoh kendali Israel di Timur Tengah dan dengan begitu kepentingan Amerika juga terjamin.

Timur Tengah menyumbang kurang lebih separuh dari konsumsi minyak dunia. Ada negara-negara kaya di sepanjang garis ini. Qatar, Arab Saudi, Iran, Kuwait, UEA, Oman, dan sebagainya. Ketiadaan “anjing penjaga” di kawasan ini, berarti tidak ada akses langsung kesana. Ini belum menghitung kepentingan Amerika untuk mengamankan jalur paling penting di dunia, yaitu Terusan Zues. Sehingga keberadaan suatu “anjing penjaga” yang patuh, yang dengan setia menjadi boneka pajangan melayani kepentingan Amerika, adalah mutlak perlu.

Sementara sebaliknya, proyek kolonialisme Zionis-Israel mendapat untung dari persekutuan mesra ini. Kepentingan mereka untuk menduduki tanah orang-orang Palestina berjalan mulus. Amerika memberi untung bagi Israel dalam hal proyek kolonialisme pemukim mereka, sementara Israel memberi peluang bagi kendali Amerika di Timur Tengah. Atas dasar inilah, apabila kita lihat geopolitik saat ini, keduanya senantiasa saling melayani satu sama lain.

Mengapa Rakyat Papua Harus Mendukung Palestina?

Jika jawabannya ditinjau dari aspek humanisme murni, maka nasib Palestina adalah sama seperti Papua. Keduanya sama-sama menderita proyek kolonialisme pemukim di tanah mereka. Amerika dan Zionis-Israel memfasilitasi pendudukan bangsa asing di tanah orang-orang Palestina, sementara Amerika yang sama juga memfasilitasi kolonialisme pemukim Indonesia di atas tanah Papua.

Apabila Palestina menderita pengusiran paksa maupun kolonialisme pemukim secara massif, maka Papua pun demikian. Indonesia mengirim militer dan mengusir hampir 1 juta penduduk Papua ke Papua Nugini tahun 1970an, demikian halnya Palestina diusir lebih dari 750 ribu orang dari tanah mereka tahun 1948. Apabila Papua menghadapi operasi militer, maka Palestina pun demikian. Apabila orang asing semakin dominan di Papua, maka demikian di Palestina. Keduanya memiliki nasib sama, yaitu sama-sama dijajah oleh bangsa asing.

Baca Juga:  Proklamasi 14 Desember 1988: Aktualisasi Visi Zending I.S.Kijne Untuk Kemerdekaan Orang Papua

Tapi kalau ditinjau dari aspek politik, dukungan terhadap kemerdekaan bangsa Palestina, berarti melemahkan salah satu nadi Amerika Serikat di Timur Tengah dan dengan begitu kekuatannya untuk mengendalikan dunia. Bila kita ingat bahwa Papua dijajah karena bantuan Amerika Serikat dan kelanjutan kolonialisme hingga hari ini karena kesepakatan Amerika dan Indonesia melalui New York Agreement tahun 1962, maka berbicara soal kemerdekaan Papua tidak bisa terlepas dari melemahnya imperialisme Amerika Serikat di tatanan dunia.

Indonesia hari ini masih kuat menjajah Papua karena dukungan 100% Amerika. Jangan lupa bahwa Amerika memegang Hak Veto di Dewan Keamanan PBB, tempat dimana Komite C-24 akan berakhir untuk kemerdekaan suatu bangsa. Amerika mempunyai kepentingan besar di Papua, yaitu Freeport, sementara Indonesia adalah dapur dan pasar mereka. Indonesia bersedia melayani Amerika dengan BoP, Freeport, dan lain-lain asalkan Amerika menjamin keamanan Papua dalam pangkuan Ibu Pertiwi. Demikian Amerika bersedia membantu Indonesia, asalkan Indonesia dengan setia melayani kepentingan mereka.

Dua hal ini, sama persis seperti hubungan Amerika dan Israel di Timur Tengah. Keduanya hanya bisa berakhir hanya apabila Israel-Amerika hancur, atau secara global kekuatan Amerika melemah, dan begitu ada harapan bagi kemerdekaan Papua.

Sebaliknya, apa untungnya mendukung Israel atau Amerika Serikat? Ditinjau dari aspek humanisme, kedua setan ini adalah pembunuh raksasa. Amerika membiayai genosida di seluruh dunia termasuk Papua dan Palestina, sementara Israel adalah bangsa penjajah sama seperti Indonesia. Ditinjau dari aspek politik, kemenangan Israel hanya berarti menambah kekuatan Amerika. Bertambahnya kekuatan Amerika berarti bertambah pula kekuatan Indonesia. Dari jalur mana kemerdekaan Papua bisa tembus? Tidak ada sama sekali.

Kesamaan agama bukan jaminan dukungan bagi suatu bangsa untuk merdeka. Bahkan saat ini, bangsa satu ras kita, satu agama di Pasifik, mulai dari PNG hingga Vanuatu menarik dukungan bagi kemerdekaan Papua. Apa yang bisa kita harapkan dari Israel? Jauh sekali. Bahkan pembunuhan Israel terhadap dua pasukan Indonesia di Lebanon, tidak dikecam oleh Prabowo. Mengapa demikian? Persekutuan keamanan bersama di bawah naungan sang bapak, Amerika Serikat. Sehingga adalah omong kosong untuk berbicara kemerdekaan Papua lewat jalur bangsa penjajah seperti Israel maupun Amerika.

Hanya solidaritas rakyat yang sejati, yang dibangun berdasarkan kepentingan bersama, yaitu perasaan dijajah yang dikombinasikan dengan sentimen imperialis dunia, itulah yang membawa kemerdekaan bagi Papua. Kita harus mendukung Palestina, demikian Iran, Venezuela, Kuba, dan seluruh perjuangan rakyat tertindas melawan Amerika di seluruh dunia. Hanya dengan begitu, solidaritas sejati dibangun, dan pengakuan bagi setiap bangsa untuk berdaulat dan mandiri dapat terwujud.

***

Referensi

Pape, Ilan. 2025. Sejarah Ringkas Penjajahan Israell di Palestina. Penerbit GDN: Tangerang.

Zayegh, Fayez A. 2021. Kolonialisme Zionis di Palestina. Indoprogres.

Rose, Jhon. 2014. Israel Negara Pembajak, Anjing Penjaga Amerika di Timur Tengah. Bintang Nusantara: Yogyakarta.

Konten Terkait

Jalan ke Tanah Leluhur: Menapaki Ironi Perubahan Alam Papua

I Ngurah Suryawan

Globalisasi Neoliberal dan Dunia Ketiga

Redaksi

Indonesia Vs Papua: Problem Kedaulatan dan Hak Asasi Manusia

Nandito Oktaviano

Kongres III Sonamappa, Pilipus Robaha Terpilih Menjadi Ketua Umum

Redaksi

Seruan PRP: Tolak Otsus, Lawan Rasisme, dan Bebaskan Victor Yeimo

Redaksi

TPNPB Adalah Teroris Atau Kombatan Dalam Perspektif Internasional?

Guntur Fonataba

1 comment

Avatar
Tetra 18 Mei 2026 at 18:14

Kritik :
Pengantar tdk nyambung,emosional tp tdk tau arahnya kemana,berantakan tdk ada thesis statement dan terlalu judgemental. pointnya simpel “orang papua harus dukung palestina karna” “kesamaan nasib”.itu sj,selebihnya cerpen hasil kopi paste.
Besok² editor bisa edit baik,harus ada pedoman pemberitaan.

Reply

Kirim Tanggapan